Senin, 23 April 2012

Berapa lama Anda Menyumpahi Anak Anda?


Cerita ini adalah kisah nyata. Di Kota Portland, Negara Bagian Oregon, AS, hidup seorang pendeta bersama istrinya juga seorang putra. Putra mereka tersebut telah membawa banyak sekali kerisauan kepada mereka.

Bukan hanya itu saja, putra mereka ini telah meninggalkan rumah selama 3 - 4 tahun lamanya dan sama sekali tidak ada kabar beritanya. Karena itu, pendeta tersebut mencari seorang psikiater untuk mengkonsultasikan masalah ini, pendeta tersebut telah mengungkapkan segala penderitaan hatinya. Psikiater  tersebut menatap dalam-dalam pada pendeta dan berkata, “Sudah berapa lama Anda telah mengutuk anak Anda itu?”

Dengan terkejut dan keheranan pendeta tersebut bertanya, “Anda mengatakan saya telah mengutuk anak saya, apa maksud perkataan Anda itu?”

Psikiater itu menjawab, “Yang saya maksud dengan mengutuk itu artinya membicarakan kejelekannya. Bukankah sejak tadi yang Anda katakan semuanya tentang kejelekan anak Anda. Sudah berapa lamakah Anda berbuat demikian?”

Dengan kepala menunduk pendeta tersebut menjawab, “Memang benar, sejak dia lahir saya sudah mengutuknya sedemikian rupa hingga sekarang, saya sama sekali tidak pernah berkata dengan perkataan yang baik terhadap anak itu.”

Psikiater itu lalu berkata, “Kalau begitu hasil Anda pasti sia-sia belaka, betulkan?”
Pendeta itu menjawab, “Benar.”

Setelah itu Psikiater tersebut berkata lagi, “Saya ingin memberikan tantangan kepada Anda dan istri, dalam dua bulan ke depan, ketika Anda teringat tentang anak itu, Anda harus memberi restu kepadanya, jangan memikirkan ketidak-baikannya. Saya ingin kalian berdoa kepada Tuhan untuk memberikan berkah anak itu. Ketika kalian membicarakan tentang anak itu, saya ingin kalian mengingat sisi baik dari anak itu, semua tentang kebaikan dia.”

Setelah pendeta itu pulang ke rumah, dia memberitahukan hal tersebut kepada sang istri, mereka setuju dengan saran psikiater itu, dan melakukan sesuai anjurannya. Ketika mendoakan anak mereka, memohon kepada Tuhan agar bisa memberi berkah kepadanya. Ketika mereka membicarakan tentang anak mereka, selalu mencoba mengingat kebaikan anak itu. Setiap hari mereka melakukan hal ini secara terus menerus.

Kira-kira setelah lewat 10 hari, ketika pendeta itu sedang membaca buku, telepon rumahnya berdering. Memang benar, orang yang berada di ujung telepon sebelah sana adalah putranya. Sang putra berkata, “Ayah, saya sungguh tidak bisa memastikan mengapa saya telepon mencari ayah, saya hanya ingin memberitahu bahwa selama satu minggu yang lalu, saya selalu teringat pada ayah dan ibu, oleh sebab itu saya hanya ingin menelepon ayah, untuk mengetahui apakah kalian baik-baik saja.”

Ayah tersebut berkata, “Anakku! Ayah benar-benar gembira sekali, engkau telah menelpon ayah.” Kemudian mereka berdua bercengkrama di telepon selama beberapa menit, akhirnya sang ayah bertanya, “Ayah tidak tahu bagaimana maksud hatimu, tetapi apakah kamu mau makan siang bersama pada akhir pekan ini?” Anaknya itu menyetujui dengan bergembira.

Akhir pekan pada waktu jam makan siang, ayah dan anak tersebut saling bertemu. Si putra mengenakan pakaian yang sudah usang, rambutnya tampak awut-awutan. Dulu, si ayah pasti akan menegur keras putranya, namun kali ini ayah itu bersikap menerima terbuka putranya, dan dalam hati mengucapkan syukur. Setelah dia menanyakan beberapa pertanyaan kepada putranya, dia lalu diam mendengarkan jawaban sang putra. Ketika putranya menjawab pertanyaan dengan benar, dia juga membenarkan.

Perjumpaan makan siang hampir selesai, si putra memandang ayahnya dan berkata, “Ayah, saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi saya sangat menikmati kebersamaan ini.” Ayahnya lalu menjawab, “Nak, ayah juga merasakan hal yang sama!”

Putra itu berkata lagi, “Oh ya, ayah bolehkah malam ini saya bermalam di rumah? Hanya malam ini saja, saya ingin menjenguk ibu dan saudara lain, juga ingin tidur di kasur saya yang lama itu.”
Ayah ini menjawab, “Sudah tentu boleh! Kami merasa sangat senang sekali, kamu boleh tinggal bersama kami lagi.”

Dalam sehari ini, hati ayah itu merasa terkejut bercampur gembira, dia menyadari ketika dia berhenti mengutuk dan menggantinya dengan restu, keadaannya mengalami perubahan yang sangat drastis.

Malam itu, ketika sang putra sedang merebahkan diri di atas ranjang, ayahnya masuk ke dalam kamar dan duduk di samping anaknya lalu berkata, “Anakku, selama bertahun-tahun ini sikap ayah terhadapmu sangat tidak baik, maukah kamu memaafkan ayah!”

Anak itu menjawab, “Ayah, saya tentunya sudah memaafkan ayah!” Kemudian anak itu duduk dan memeluk ayahnya, sejak saat itu hubungan mereka berdua menjadi baik.

Namun hubungan baik ini sebenarnya dimulai sejak kapan? Dimulai sejak kedua orangtua tersebut mulai bersyukur dan merestui anak mereka.

Saya tidak begitu memahami apa sebabnya, tetapi saya tahu ketika kita mau bersyukur dan merestui orang lain serta tidak lagi mengutuk orang tersebut, maka Tuhan juga bisa memperhatikan doa restu kita. Buah apa yang kita tanamkan hasilnya sudah pasti juga adalah buah itu pula. Jika kita menaburkan bibit kutukan, maka hasil yang akan kita terima juga kutukan pula; Jika kita menaburkan benih bersyukur, maka hasil yang akan kita terima juga bersyukur.

 

 

 

 

Sumber

Kejujuran adalah Emas


Zaman dahulu di Tiongkok, ada dua toko penjual beras di sebuah kota yakni toko beras HongChang dan toko beras Yong Yu.

Pemilik toko Yong Yu sangat licik. Dia tahu bahwa tidak mudah untuk hidup dari menjual beras, jadi dia mencoba cara “cerdik” untuk memperoleh keuntungan tambahan.

Suatu hari pemilik toko Yong Yu mengundang ahli timbangan ke toko dan berkata, "Tolong sesuaikan timbangan 15,5 ons satu jin (biasanya harus 16 ons). Saya akan bayar dua kali lipat pekerjaan Anda." Ahli timbangan tertarik pada uang tambahan, sehingga dia lupa etika profesionalnya. Setelah memberikan arahan, pemilik toko kembali bekerja.

Pemilik toko itu memiliki empat anak dan mereka semua membantu di toko. Putra bungsunya baru saja menikah dan pengantin barunya adalah putri pengacara yang mendengar pemilik toko berbicara kepada ahli timbangan dari kamar sebelah. Setelah merenungkan situasi untuk sementara waktu, ia memutuskan untuk berbicara dengan ahli timbangan.

"Ayah mertua agak bingung, dan apa yang dia katakan tidak ada artinya," kata istri putra bungsunya. "Silakan menyesuaikan skala untuk 16,5 ons satu jin. Saya akan membayar Anda dua kali lipat biaya normal. Namun, Anda tidak boleh memberitahu ayah mertua saya tentang ini,” lanjutnya.

Ahli timbangan sangat gembira dan dia langsung setuju untuk menyesuaikan timbangan dengan permintaan wanita muda itu, tidak butuh waktu lama baginya untuk melakukannya. Karena ahli timbangan telah bekerja bertahun-tahun bagi pemilik toko beras, tidak seorangpun mempertanyakan pekerjaannya.

Setelah beberapa saat, bisnis mulai meningkat bahkan pelanggan dari toko beras lainnya datang ke toko Yong Yu untuk membeli beras. Beberapa bulan kemudian, orang dari seluruh penjuru kota datang ke toko ini untukmembeli beras. Toko beras lainnya akhirnya keluar dari bisnis ini dan menjual habis kepada pemilik Yong Yu.

Pada malam Tahun Baru China, seluruh keluarga berkumpul dan makan pangsit. Pemiliknya sangat senang dan memberi seluruh keluarganya sebuah pertanyaan: "Apa rahasia keberhasilan toko?" Semua orang menduga dan perbincangan menjadi bergairah. Jawaban berkisar antara "Anugrah Tuhan", kemampuan " ayah mereka", " fengshui yang baik", "kerja sama yang baik ", dan lain-lain.

Ayahnya tertawa dan berkata, "Tidak satupun itu. Ini berkat timbangan toko. Timbangan kita menjual 15,5 ons satu jin dengan demikian, kita memperoleh setengah ons lebih keuntungan untuk setiap jin yang kita jual."

Banyak anggota keluarga memuji orang tua itu karena kebijaksanaannya. Orang tua itu sangat senang dan membelai jenggotnya berkali-kali. Pada saat ini, istri putra bungsu itu berdiri perlahan dan berkata kepada ayah mertuanya, "Saya memberitahu Anda sesuatu yang sangat penting, tapi saya meminta pengampunan Anda sebelum saya mengatakannya."

Orang tua itu mengangguk untuk menunjukkan persetujuannya. Wanita muda itu berkata, "Ya, timbangan kita memang membuat kita beruntung, tapi itu karena memberikan 16,5 ons satu jin, bukan 15,5."

Dia memberitahu semua orang bagaimana dia membayar ahli timbangan biaya ekstra untuk menyesuaikan timbangan. Lalu dia berkata, "Kita melakukan kejujuran. Ya, kita membuat laba per jin kurang, tapi kita menjual beras lebih banyak."

Semua orang kaget, dan orang tua bahkan memeriksa timbangan untuk memastikan apakah menantunya itu benar. Benar saja, timbangan diukur 16,5 ons satu jin. Orang tua itu diam-diam masuk ke kamar tidurnya.

Keesokan harinya, pada Tahun Baru China, orang tua itu mengumpulkan seluruh keluarga setelah sarapan. Dia mengambil kunci toko dari pinggangnya dan berkata, "Saya sudah tua dan tak berguna. Saya merenungkan semalaman dan memutuskan untuk memberikan menantu perempuan saya mengelola toko. Mulai sekarang, semua orang mendengarkan dia." (SecretChina/art/asr)

 

 

 

Sumber

Inilah Tips Panjang Umur dari Seorang Berusia 256 Tahun

 
Tahukan Anda bahwa manusia jaman sekarang masih ada yang berumur panjang, bahkan bisa sampai mencapai ratusan tahun. Ini adalah kisah seorang manusia di China yang bernama Li Qing Yun (1677-1933), dia meninggal pada usia 256 tahun. Menurut legenda, Mr Li Qing Yun (1677-1933) adalah seorang dokter pengobatan Tiongkok, ahli herbal, master qigong, dan konsultan strategi. Dia dikatakan telah hidup melewati sembilan kaisar pada dinasti Qing selama 256 tahun.

 

 
Obituari Mei 1933 di Majalah Time, berjudul "Kura-kura-Merpati-Anjing," Li mengungkapkan rahasia umur panjang, "Jaga hati yang tenang, duduk seperti kura-kura, berjalan lincah seperti merpati dan tidur seperti anjing."


Li dikatakan memiliki kebiasaan tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari. Dia tidak minum minuman keras atau merokok dan makan yang teratur. Dia seorang vegetarian dan sering minum teh wolfberry (sejenis goji berry).


Dia tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Ketika dia punya waktu senggang, ia duduk tegak dengan mata tertutup dan tangan di pangkuan, saat itu tidak bergerak sama sekali selama beberapa jam. Li menghabiskan seluruh hidupnya mempelajari ramuan Tiongkok dan menemukan rahasia umur panjang, perjalanan melewati provinsi di Tiongkok dan sampai Thailand untuk mengumpulkan ramuan dan mengobati penyakit.


Gaya Hidup


Dan Buettner, penulis "The Blue Zones: Pelajaran Panjang Umur dari Orang Yang Hidup Terlama," penelitian ilmu umur panjang. Dalam bukunya dan pembicaraan TED 2009, ia meneliti gaya hidup dari empat populasi geografis yang berbeda di seluruh dunia.


Semua kelompok: penduduk Okinawa, Sardinia, California Advent, dan Costa Rico-hidup sampai lebih dari 100 tahun yang jauh lebih besar dari kebanyakan orang, atau mereka hidup belasan tahun lebih lama dari rata-rata. Dia menyebut tempat di mana kelompok-kelompok ini hidup "zona biru."


Menurut penelitian Buettner, semua kelompok zona-biru makan diet bahan sayuran. Kelompok Advent di Loma Linda, California, banyak makan kacang-kacangan dan sayuran hijau seperti yang disebutkan dalam Alkitab. Penggembala yang tinggal di dataran tinggi Sardinia mengonsumsi roti gandum tak beragi, keju dari hewan makan-rumput, dan anggur khusus.


Buettner menemukan bahwa diet rendah kalori membantu dalam memperpanjang hidup, seperti yang ditunjukkan oleh sebuah kelompok lansia sehat Okinawa yang memraktekkan aturan Konfusianisme berhenti makan ketika 80 persen penuh.


Mungkin teh wolfberry Li Qing Yun memainkan peran penting dalam kesehatannya. Setelah mendengar cerita Li, peneliti medis dari Inggris dan Prancis melakukan studi mendalam tentang wolfberry dan menemukan bahwa itu mengandung vitamin yang tidak diketahui disebut "Vitamin X," juga dikenal sebagai "vitamin kecantikan."


Percobaan mereka menegaskan bahwa wolfberry menghambat akumulasi lemak dan meningkatkan sel-sel hati baru, menurunkan glukosa darah dan kolesterol, dan sebagainya.


Wolfberry melakukan peran peremajaan: Ini mengaktifkan sel-sel otak dan kelenjar endokrin, meningkatkan sekresi hormon, dan menghilangkan akumulasi racun dalam darah, yang dapat membantu menjaga fungsi normal organ dan jaringan tubuh.


Meditasi


Para peneliti telah menemukan banyak manfaat meditasi rutin. Ahli saraf di University of Massachusetts Medical School meminta dua kelompok stress karyawan teknologi tinggi bermeditasi selama delapan minggu dan sebagai kelompok pembanding, satu kelompok lagi hidup seperti biasa.


Mereka menemukan bahwa pada kelompok yang melakukan meditasi "menunjukkan pergeseran aktivitas pada lobus frontal kiri," tulisan sebuah artikel Psikologi Today 2003. "Pergeseran mental yang mengurangi efek negatif dari stres, depresi ringan, dan kecemasan. Ada juga pengurangan aktivitas di amigdala, di pusat proses takut di otak. "


Meditasi juga mengurangi penyusutan otak akibat penuaan dan meningkatkan ketengan hati. Selain meditasi, Buettner menemukan bahwa waktu menenangkan diri pribadi seperti ini mencegah inflamasi (yang merupakan reaksi stress).


Kelompok California Advent secara ketat melaksanakan waktu sabat mereka selama 24 jam, dimana didalamnya ada waktu untuk introspeksi, berdoa, dan menikmati lingkaran sosial mereka.


Masyarakat


Buettner juga menemukan bahwa masyarakat merupakan faktor besar dalam umur panjang kelompok zona-biru. Model Okinawa memiliki banyak teman dekat, dengan siapa mereka sharing segalanya. Dataran tinggi Sardinia memiliki penghormatan untuk orang tua yang tidak ditemukan dalam masyarakat Barat modern. The Advent menempatkan keluarga yang pertama. Rasa memiliki, memiliki teman sehat dan keluarga mendorong individu untuk hidup sehat juga.


Dalam "Outliers," Malcolm Gladwell meneliti sekelompok Italia disebut Rosetans, yang bermigrasi ke barat daerah Bangor, Pennsylvania. Menurut daftar, mereka menderita lebih sedikit penyakit jantung dan umumnya berumur panjang, hidup sehat. Setelah penelitian, ditetapkan bahwa rahasia mereka bukan genetika atau bahkan diet (41 persen dari makanan mereka berasal dari lemak).


"Rosetans telah menciptakan kekuatan, struktur sosial pelindung mampu mengisolasi mereka dari tekanan dunia modern," tulis Gladwell. "Para Rosetans yang sehat dari mana mereka berasal, karena mereka telah menciptakan dunia untuk diri mereka sendiri di kota kecil di perbukitan."


Hidup dengan Tujuan


Dalam perjalanannya, Buettner menemukan sebuah tema umum di antara kelompok zona-biru yakni tidak ada dari mereka memiliki konsep “pensiun”. Masih merasa menjadi manusia berguna sampai tua adalah rahasianya. Hidup terarah sampai akhir hayat adalah resep Okinawa dan Sardinia. Dalam kelompok, Buettner bertemu pria dan wanita yang umurnya seratus tahun terus mendaki bukit, membangun pagar, berternak ikan, dan menjaga cucu.


Menariknya, tidak satu pun dari mereka yang sengaja berolahraga seperti orang Barat yang pergi ke gym. "Mereka hanya menjalani hidup aktif yang menjalankan aktivitas fisik," kata Buettner. Mereka semua berjalan, masak, dan melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri, dan banyak dari mereka berkebun. (Secret China/art)





Sumber : erabaru.net

Jumat, 20 April 2012

Pelajaran Hidup Dari Seorang Tukang Es Tebu Yang Meninggalkan Harta Berlimpah Demi Ketenangan Hati



 http://mustlieliek.files.wordpress.com/2012/04/img_9131.jpg?w=300


Tak banyak orang seperti Tubagus Muhammad Ismail. Ketika yang lain sulit mencari kerja, dia malah meninggalkan pekerjaan dengan gaji Rp 10 juta per bulan. Ismail lebih memilih berjualan es tebu keliling dan sales parfum murah.



ROMBONG es tebu itu dikerumuni ibu-ibu muda ketika melintas di kawasan Wage, Sidoarjo. Tawa riang dan canda mereka berbaur dengan suara anak-anak yang berebut membeli. Susana itu hampir terjadi tiap hari pukul 15.00-17.00.

 


Itulah rutinitas Tubagus Muhammad Ismail menjajakan es tebunya di kawasan tersebut. Pria 39 tahun itu berbeda dari penjual es tebu lain. Penampilannya rapi, bersih, pakaian necis, dan wangi. Dengan tinggi badan sekitar 170 cm, kulit putih, paras tampan, pria berdarah Banten-Sunda-Padang itu jauh dari mainstream penjual es tebu keliling.



Karena itu, tak heran Ismail merupakan tukang tebu favorit -setidaknya- di kawasan Wage. Seorang warga perumahan bahkan menjuluki Ismail sebagai tukang tebu terganteng se-Asia Tenggara.



Ada cerita, pernah seorang ibu yang naik sepeda terjebur got gara-gara meleng melihat Ismail nggenjot rombong tebunya. ''Tapi, saya tak tahu cerita persisnya seperti apa. Saya hanya diberi tahu tetangga saya,'' kata Ismail lalu tersenyum.



Pria ramah itu tak hanya punya nilai lebih dari segi fisik, tapi juga idealisme. Karena idealisme itulah dia memilih mundur dari pekerjaannya sebagai legal staff di sebuah perusahaan rokok besar di Surabaya. Padahal, di tempat tersebut, dia punya gaji cukup besar, Rp 10 juta per bulan.



Sementara hasil jualan es tebu keliling itu, paling banter dia dapat Rp 1,5 juta per bulan. ''Ini pendapat saya pribadi, bukan bermaksud memojokkan siapa-siapa,'' katanya. ''Saya merasa bahwa rokok adalah sesuatu yang mudharat-nya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Itulah yang membuat saya bimbang, saya bekerja di industri yang seperti itu,'' lanjut bapak satu anak tersebut. ''Makanya, saya lebih bahagia sekarang, meski pendapatan pas-pasan. Kedamaian hati, itu yang paling penting,'' sambungnya.



Ismail kemudian menuturkan kisahnya. ''Ketika kuliah, saya sudah bekerja di perusahaan advertising, anak perusahaan rokok itu,'' katanya. Itu terjadi pada 1991 saat kuliahnya di Fakultas Hukum Untag memasuki tahap akhir. Setahun kemudian, dia dipindahkan ke induknya, bagian legal department. ''Waktu pindah, saya belum lulus,'' paparnya.



Ismail baru lulus setahun kemudian. Kelulusan itu mendongkrak eselon dan gajinya di perusahaan tersebut. Konditenya selalu baik. Pelan-pelan gajinya naik. Karena tempatnya bekerja merupakan salah satu perusahaan dengan rate gaji tertinggi di Surabaya, Ismail hidup berkecukupan.



Hidupnya mapan, tinggal di rumah tipe 45 di Griyo Wage Asri. ''Hingga saya resign pada 2007, gaji saya Rp 10 juta. Itu belum termasuk bonus dan tunjangan lain,'' kenangnya.



Meski gajinya besar, dia selalu gelisah. Puncaknya terjadi pada 2005. ''Saya merasa industri tempat saya bekerja tidak cocok dengan hati nurani saya,'' tuturnya. Rokok, bagi Ismail, adalah hal paling merugikan dalam kehidupan. Terutama dari sudut pandang imannya.



Ismail memang religius. ''Sejak kecil, orang tua saya selalu menekankan nilai-nilai Islam yang kuat kepada saya,'' paparnya. Ajaran itu terus terbawa hingga sekarang. Karena itu, Ismail selalu berusaha ikut pengajian di mana pun. ''Untuk menambah ilmu,'' tuturnya.



Hampir semua pengajian di Surabaya dan Sidoarjo pernah dia datangi. Bahkan, dia selalu menyempatkan ikut kuliah subuh di TVRI. Tapi, dia mengaku tak ikut sebuah organisasi keagamaan apa pun. ''Saya tak ikut PKS atau apa pun. Saya lebih suka begini saja,'' katanya.



Dalam Islam, rokok dianggap makruh (sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan). Bahkan, sebagian ulama menilai haram. ''Itu yang memengaruhi pemikiran saya,'' katanya.



Apalagi, ikhwan-ikhwan (saudara) sepengajian sering mengingatkan dia. Juga mengirim e-mail berisi tulisan dan gambar tentang akibat merokok. ''Ngeri, ngeri, kalau melihat gambarnya. Paru-paru yang hitam membusuk, orang yang kondisinya sekarat, wahh... pokoknya mengerikan,'' tuturnya.



Satu pemikiran mulai menusuk dirinya. ''Masak sih saya memberi makan anak dan istri dengan uang yang dihasilkan dari industri yang merusak masyarakat,'' katanya lalu buru-buru menambahkan bahwa itu pendapatnya pribadi.



Sejak itu, kinerja Ismail melorot drastis. Manajemen perusahaan melihat perubahan tersebut. Manajemen yang bijak mengajak Ismail berbicara dari hati ke hati. Karena memang sudah bimbang, Ismail memutuskan mundur dari perusahaan pada Juni 2007. ''Saya akan merugikan perusahaan bila tidak bisa kerja maksimal. Karena situasinya seperti itu, saya pikir inilah titik untuk hijrah. Saya keluar secara baik-baik,'' urainya.



Atas jasa-jasanya selama 16 tahun bekerja, perusahaan memberi pesangon Rp 400 juta. Selepas dari perusahaan, Ismail melakukan apa saja yang halal untuk menyambung hidup. Di antaranya, menjadi sales parfum tiruan. ''Saya menemukan dunia yang asyik. Ternyata, saya juga punya potensi di bidang marketing,'' katanya dengan mata berbinar.



Untuk menambah penghasilan, Ismail berjualan es tebu. ''Saya bertemu pemilik Mr Tebu dan saya membeli franchise-nya seharga Rp 10 juta. Itu sudah dapat rombong dan peralatannya,'' tuturnya. Dia menggenjot sendiri rombong tersebut.



Perubahan hidup itu membuat Sri Lestari -istri yang kini telah berpisah- kaget. Kata-kata seperti terus kerjo opo, Pa? sering kali terucap. Ketika Ismail memutuskan menggenjot sendiri rombong es tebunya, Sri nyaris tak percaya. ''Sing bener ae, Pa?'' ujar Sri sebagaimana ditirukan Ismail.



Namun, Ismail bergeming. Melihat keteguhan hati suaminya, Sri bisa memahami. ''Apalagi, tetap harus ada penghasilan kan,'' katanya. Ismail tak bersedia mengungkapkan alasan pisah dari istrinya.



Selain parfum dan es tebu, Ismail mencoba jual beli apa saja. Mulai seprai hingga mobil. Namun, hanya eceran. ''Maklum, dana terbatas dan penghasilan harus ditingkatkan,'' ungkapnya.



Dari berjualan parfum, Ismail hanya mendapatkan rata-rata Rp 600 ribu per bulan, sedangkan dari es tebu dapat Rp 700 ribu-Rp 800 ribu. ''Tapi, saya bangga dengan pilihan ini. Meski hanya jadi tukang es tebu dan sales parfum, saya jauh lebih berbahagia daripada saat masih kerja di industri rokok,'' tegasnya.


 

 

 
Sumber:

Kamis, 19 April 2012

KISAH MARIO TEGUH BELAJAR ADZAN.

Mario Teguh



Saat itu saya kelas 4 di SD Poerwantoro - Malang, dan Ibu menyuruh saya belajar mengaji di surau kecil di kampung sebelah.

Setiap sebelum Maghrib, saya sudah berdebar gelisah, karena jarak yang kira-kira 600 meter dari rumah ke surau - bagi anak sekecil itu - cukup jauh, melalui sawah, yang kalau malam gelap dan mengerikan.

Sesampai di surau, Pak Ustad menyuruh saya adzan. Awalnya saya menolak, karena saya belum pernah melakukannya, dan yang terbayang di benak kecil saya saat itu - seluruh kampung berhenti melakukan apa pun untuk mendengarkan adzan saya yang fals.

Ooh .. kaki saya gemetaran, jantung sudah di leher, bibir jalan-jalan sendiri ke mana-mana, tapi apa daya … Pak Ustad memaksa.

Saya berdiri seperti wayang kulit ditiup angin, dan mengeluarkan semua 'tenaga dalam' yang sudah gembos sejak tadi itu - untuk mulai melantunkan adzan.

Sejenak setelah saya mulai, terdengar kegelisahan di dalam surau, dan Pak Ustad menowel kaki saya, dan berbisik: Heh … salah. Ulangi …"

Saya memulai lagi, Pak Ustad nowel lagi. Saya coba lagi lebih keras, Pak Ustad nowel lebih keras. Saya coba lagi sangat keras, Pak Ustad menarik sarung saya dan memaksa saya duduk.

Ooh … dunia ini terasa sangat kejam kepada anak kecil yang ketakutan dan terpaksa.

Seorang anak kecil yang lain di suruh Pak Ustad berdiri menggantikan saya, yang dengan fasih dan indah melantunkan adzan di Maghrib yang galau itu.

Teman saya itu juara ngaji di surau itu, dan mungkin sekarang sudah jadi anggota MUI.

Saya berjalan gontai, lupa akan semua hantu dan jin yang selama ini memomoki pikiran kecil saya - setiap saya menembus jalan di tengah sawah yang gulita itu.

Di rumah, Ibu bertanya: Lasise', kenapa kamu diam?

Saya menggeleng dengan wajah yang hampir robek dengan tangis. Saya masuk kamar dan menangis, merasa demikian rendah karena gagal di hadapan seluruh kampung.

Hati saya yang masih kecil itu berdoa, semoga saya akan menjadi lebih kuat menghadapi kegagalan dan kekecewaan saat saya dewasa nanti.

Dan saya berjanji, tidak akan berlaku kasar dan semena-mena menggampangkan kesedihan anak-anak saya di masa depan, saat mereka merasa kecewa karena kegagalan.

Orang tua tidak boleh menyepelekan rasa kecewa anak kecil, karena bagi anak kecil - kekecewaan mereka terasa lebih besar daripada kekecewaan orang dewasa.

Setelah kejadian yang memalukan di surau itu, saya tetap melakukan kesalahan dan gagal dalam banyak hal, menyesal dan menangis, terkadang bersembunyi menanggung malu, tapi saya seperti bola bekel - tetap melanting naik setelah jatuh, dan semakin tinggi lantingan saya - jika saya dibanting.

Ternyata, bukan jatuhnya yang penting, tapi bangkitnya.

Ternyata, semakin keras bantingan hinaan kepada kita, semakin tinggi kita dinaikkan oleh Tuhan - jika kita ikhlas.

Sayangilah anak-anak kecil.

Merekalah tempat kita bersandar di masa tua.

Mario Teguh - Loving you all as always


 

 

 

 

Sumber

Orang yang di Sukai oleh DAJJAL


Diriwayatkan oleh An-Nawwas ibn Sam'an :
'Dia, yang hidup dan melihatnya (Dajjal) harus membacakan di depannya ayat-ayat pembukaan Surat Al Kahfi. (HR Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili :
Barangsiapa memasuki nerakanya (Dajjal), mintalah pertolongan Allah dan bacakan ayat pembukaan Surat Al Kahfi, dan hal ini akan mendinginkan dan mendamaikannya, seperti api menjadi dingin terhadap Ibrahim. (HR Ibnu Katsir)

Tanda-tanda dan rahasia Hari Akhir
Satu alasan mengapa Rasulullah SAW menganjurkan orang-orang beriman membaca Surat Al Kahfi  saat Dajjal Mencoba
Membujuk Rayu adalah karena surat ini berisi isyarat penting mengenai Hari Akhir, seperti berbagai hal yang dibutuhkan untuk bertahan dan memerangi Dajjal, dan gerakan-gerakan anti-agama yang menimbulkan berbagai kejahatan atas kemanusiaan, yang ingin disebarkan oleh Dajjal ke seluruh dunia.

Surat Al Kahfi ini juga berisi berbagai pelajaran bagi kaum Muslimin.

Anjuran Rasulullah SAW untuk menghapalkan dan membaca surat ini dengan penuh perhatian adalah suatu isyarat kuat tentang hal ini. Seperti kita akan lihat di seluruh bab ini, pengalaman Ashabul Kahfi yang tinggal di sebuah masyarakat yang kafir, pelajaran bahwa Musa AS belajar dari Khidr, dan pemerintahan di atas dunia yang didirikan oleh Dzulkarnain AS agar dapat menyebarkan nilai-nilai Islam, adalah perkara-perkara yang perlu direnungkan oleh orang-orang beriman.



LALU ORANG YANG SEPERTI APAKAH YANG SANGAT DI SUKAI OLEH DAJJAL dan Tanpa di Sadari ia Sudah Di Tandai oleh DAJJAL di hati-Nya ?


1. Orang Yang Apabila Kumandang Adzan Terdengar ia Mengacuhkannya

2. Orang Yang Apabila di Nasehati  / di Beritahukan Mengenai Rencana-rencana Dajjal di Dunia Sebelum ia Datang, Dia Tidak Perduli.

Contoh :  Dajjal Tidak Langsung Tiba-tiba Datang, Atas Izin Allah SWT ia mempersiapkan Semuanya dengan bantuan para Pengikutnya (Freemasonry - illuminati) Agar Semakin banyak manusia yang akan menjadi Pengikutnya, dan Jika Seseorang sudah Tau Mengenai Rencana Dajjal ini (Melalui Rencana dari  Freemasonry -illuminati) Tetapi Ia tidak Perduli,,, DAJJAL sudah melihat-nya dan Sudah Menandai di Hati Orang Tersebut sebagai target yang Mudah untuk di Bujuk Rayu.

Dengan Kata Lain,Jika Seandainya Saya Sebagai Penulis sudah Tau Mengenai Rencana Agung Dajjal ini tetapi saya Tidak Perduli dan Tidak Percaya atau bahkan cenderung Cuek dan Masa bodo, maka Dajjal walaupun dia di Rantai dia Tau Siapa saja orang di Bumi ini yang tidak Perduli Terhadap Rencana Dajjal Sebelum Kedatangannya dan Celakalah Bagi Orang yang Tidak Mempersiapkan Diri.

Sesuai dengan Doa Dajjal kepada Allah SWT Yang kelak Akan di Kabulkan:

Ya Rabb Berikanlah Aku Kemampuan untuk Menurunkan Hujan, Menghidupkan Orang yang Sudah Mati, menyembuhkan Penyakit yang Ada di Dunia, Menyuburkan Tanaman dan Memperlihatkan Surga dan neraka kepada Manusia kelak,,, Yang Sesungguhnya Surga ku adalah neraka-Mu dan Nerakaku Adalah Surga-Mu  Ya Rabb Agar aku Bisa Menguji Keimanan Manusia Kelak....


 

 

 

 

 

Sumber

Aneh! Bayi Kamboja Menyusu ke Sapi Langsung


Seorang lelaki Kamboja mengatakan, cucunya yang masih berusia 20 bulan menyusu langsung pada sapi.

Menurut Um Oeung, sang kakek, bocah bernama Tha Sophat itu mulai menyusu pada sapi sejak kedua orangtuanya meninggalkan desa untuk bekerja.

Tha Sophat, ujar Um Oeung, rupanya mencontoh anak sapi.



Awalnya Um Oeung menarik cucunya jauh-jauh dari sapi ketika bayi itu sedang menyusu. Lama-lama, Um Oeung menyerah setelah anak itu merengek. Kini Tha Sophat menyusu ke sapi satu hingga dua kali sehari.

Tha Sophat tinggal dengan kakek dan neneknya di sebuah desa di provinsi Siem Reap, Kamboja.



Um Oeung mengatakan, tampaknya sapi itu tidak keberatan ada bocah menyusu padanya. Yang dia khawatirkan adalah kesehatan cucunya jika dia terus menyusu langsung pada sapi.



Mengonsumsi susu sapi tentu adalah hal biasa bagi seorang bayi. Namun bagaimana jika ada bayi yang melakukan hal tersebut secara langsung terhadap seekor sapi? Hal itulah yang terjadi di sebuah desa di Kamboja. Seorang bocah bernama Tha Sophat (20 bulan) terbiasa menyusu langsung pada seekor sapi. Menurut sang kakek, Um Oeung, kebiasaan tersebut dilakukan sejak kedua orangtua sang bocah meninggalkan desa untuk bekerja di Thailand.