Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

KISAH MARIO TEGUH BELAJAR ADZAN.

Mario Teguh



Saat itu saya kelas 4 di SD Poerwantoro - Malang, dan Ibu menyuruh saya belajar mengaji di surau kecil di kampung sebelah.

Setiap sebelum Maghrib, saya sudah berdebar gelisah, karena jarak yang kira-kira 600 meter dari rumah ke surau - bagi anak sekecil itu - cukup jauh, melalui sawah, yang kalau malam gelap dan mengerikan.

Sesampai di surau, Pak Ustad menyuruh saya adzan. Awalnya saya menolak, karena saya belum pernah melakukannya, dan yang terbayang di benak kecil saya saat itu - seluruh kampung berhenti melakukan apa pun untuk mendengarkan adzan saya yang fals.

Ooh .. kaki saya gemetaran, jantung sudah di leher, bibir jalan-jalan sendiri ke mana-mana, tapi apa daya … Pak Ustad memaksa.

Saya berdiri seperti wayang kulit ditiup angin, dan mengeluarkan semua 'tenaga dalam' yang sudah gembos sejak tadi itu - untuk mulai melantunkan adzan.

Sejenak setelah saya mulai, terdengar kegelisahan di dalam surau, dan Pak Ustad menowel kaki saya, dan berbisik: Heh … salah. Ulangi …"

Saya memulai lagi, Pak Ustad nowel lagi. Saya coba lagi lebih keras, Pak Ustad nowel lebih keras. Saya coba lagi sangat keras, Pak Ustad menarik sarung saya dan memaksa saya duduk.

Ooh … dunia ini terasa sangat kejam kepada anak kecil yang ketakutan dan terpaksa.

Seorang anak kecil yang lain di suruh Pak Ustad berdiri menggantikan saya, yang dengan fasih dan indah melantunkan adzan di Maghrib yang galau itu.

Teman saya itu juara ngaji di surau itu, dan mungkin sekarang sudah jadi anggota MUI.

Saya berjalan gontai, lupa akan semua hantu dan jin yang selama ini memomoki pikiran kecil saya - setiap saya menembus jalan di tengah sawah yang gulita itu.

Di rumah, Ibu bertanya: Lasise', kenapa kamu diam?

Saya menggeleng dengan wajah yang hampir robek dengan tangis. Saya masuk kamar dan menangis, merasa demikian rendah karena gagal di hadapan seluruh kampung.

Hati saya yang masih kecil itu berdoa, semoga saya akan menjadi lebih kuat menghadapi kegagalan dan kekecewaan saat saya dewasa nanti.

Dan saya berjanji, tidak akan berlaku kasar dan semena-mena menggampangkan kesedihan anak-anak saya di masa depan, saat mereka merasa kecewa karena kegagalan.

Orang tua tidak boleh menyepelekan rasa kecewa anak kecil, karena bagi anak kecil - kekecewaan mereka terasa lebih besar daripada kekecewaan orang dewasa.

Setelah kejadian yang memalukan di surau itu, saya tetap melakukan kesalahan dan gagal dalam banyak hal, menyesal dan menangis, terkadang bersembunyi menanggung malu, tapi saya seperti bola bekel - tetap melanting naik setelah jatuh, dan semakin tinggi lantingan saya - jika saya dibanting.

Ternyata, bukan jatuhnya yang penting, tapi bangkitnya.

Ternyata, semakin keras bantingan hinaan kepada kita, semakin tinggi kita dinaikkan oleh Tuhan - jika kita ikhlas.

Sayangilah anak-anak kecil.

Merekalah tempat kita bersandar di masa tua.

Mario Teguh - Loving you all as always


 

 

 

 

Sumber

Selasa, 13 Maret 2012

Apakah Anda Menyukai Tebu atau Gulanya?



“Habis manis, sepah dibuang,” betapa pandainya para sepuh kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai sudah tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Ngomong-ngomong, ‘sepah’ itu apa sih?

Meski bukan daerah penghasil gula, namun di rumah masa kecil saya terdapat rumpun-rumpun pohon tebu. Kami menggunakan parang untuk memotong batangnya, lalu mengupas kulitnya. Kemudian memotong batang tebu itu menjadi seukuran jari-jari telunjuk. Setelah itu? Kami mengungahnya. Rasa manis memenuhi mulut kami. Lalu tiba saatnya dimana kunyahan itu hanya menyisakan rasa tawar saja. Di mulut kami sekarang hanya tertinggal ampas. Kami meludahkan ampas itu ke tanah. Benda tak berdaya diatas tanah itulah yang kita sebut sebagai sepah. Habis manis, sepah dibuang. Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang? Kita sering menggambarkan hidup yang sudah tidak berguna sebagai sepah. Kita sadar jika sudah tidak berguna, tetapi masih ngotot untuk tidak dibuang. Itu mengindikasikan bahwa ini adalah saatnya untuk mengubah paradigma tentang hidup. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memperbaiki paradigma hidup itu; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

1. Jadilah pemanis kehidupan.

Disekitar kita begitu banyak orang yang suka minum kopi. Tetapi, saya hampir tidak pernah mengenal orang yang minum kopi tanpa gula. Bahkan sekalipun kita menyebutnya ‘kopi pahit’, ternyata ya menggunakan gula juga. Mengapa gula selalu ada dalam setiap cangkir kopi yang disajikan? Karena gula membuat rasa pahit pada kopi terasa menjadi manis. Anda yang mengetahui rasa asli kopi tentu tahu jika sebenarnya kopi itu mirip arang. Karbon yang tersisa dari benda hangus. Makanya rasanya tidak benar-benar enak. Tetapi, ketika kedalam seduhan kopi pahit itu kita bubuhkan gula; tiba-tiba saja kita menikmatinya. Bahkan menjadikannya sebagai minuman favorit. Bayangkan jika kita bisa membuat rasa pahit kehidupan menjadi terasa manis. Tentunya kita tidak akan lagi harus disiksa oleh rasa pahit itu. Bahkan boleh jadi, kita menjadi penikmat rasa pahit itu. Kita bisa menari dalam deraan tantangan dan rintangan. Kita masih bisa tersenyum ditengah terpaan angin cobaan. Dan kita masih bisa bersyukur meski tengah berada dalam pahit getirnya cobaan hidup. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mampu memaniskan kehidupan.

2. Jadilah pribadi yang manis, maka pasti selalu dikerubuti.

Ditempat tidur saya tiba-tiba saja banyak sekali semut. Setelah diperiksa, ternyata ada sisa-sisa gula dari kue kering yang kami makan bersama anak-anak. Ternyata benar; ada gula, ada semut. Para semut tidak lagi memperdulikan lokasi dan situasi. Dimana ada gula, kesitulah mereka berbondong beriringan. Ini tidak hanya benar bagi para semut. Coba saja perhatikan orang-orang yang bisa memberi manfaat bagi lingkungannya. Para dermawan, selalu dikerubungi oleh para pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan. Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan oleh mereka. Kita? Sesekali orang lain itu mbok ya membutuhkan kita gitu loh. Tapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya ya? Mereka malah mengira seolah kita ini tidak ada. Sekalipun kita sudah menyodor-nyodorkan wajah kita. Tetap saja masih tidak mereka lihat. Sudah beriklan, bahkan. Tapi juga tidak ditanggapi. Barangkali, karena kita belum bisa menjadi pribadi yang manis bagi mereka. Karena sudah menjadi fitrah manusia untuk mengerubuti segala sesuatu yang terasa manis.

3. Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang.

Mari berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah. Saya mengenal seorang eksekutif senior yang mumpuni. Setelah memasuki masa pensiun dari jabatanya yang tinggi, saya pikir beliau akan menjadi seperti ‘tebu-tebu’ yang lainnya. Ternyata saya keliru. Perusahaan kemudian memperpanjang masa kerjanya dengan system kontrak. Lalu beliau berpindah ke perusahaan lain. Lalu beliau ditarik lagi oleh perusahaan lainnya. Bagi saya, beliau inilah salah satu living legend mereka yang tidak pernah membiarkan dirinya ‘kehilangan rasa manis’. Meski usianya sudah jauh melampaui masa pensiun, beliau tetap manis. Rasa manis yang masih tetap lestari didalam dirinya itulah yang menjadikan beliau tetap menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, maka kita harus memastikan bahwa kita tetap menjadi pribadi yang manis.

4. Nikmatilah rasa manis secukupnya, tidak berlebihan.

Sekarang, cobalah ambil sesendok gula terbaik yang Anda miliki. Lalu suapkan sesendok gula itu kedalam mulut Anda, dan kunyahlah. Apakah Anda masih menikmati rasa manisnya? Pada dasarnya, semua orang menyukai rasa manis. Namun, tak seorang pun bisa melahapnya terlalu banyak. Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. Bahkan gula pun mengajari kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita bisa mengalami sindrom toleransi insulin. Sungguh keliru jika kita mengira hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Tidak. Justru hidup yang terlalu indah cenderung menjadikan kita pribadi yang serakah. Semacam sindrom toleransi insulin kehidupan. Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi dalam tubuh Anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah Anda. Tahukah Anda apa yang terjadi ketika dalam darah kita terdapat lebih banyak gula dari yang seharusnya? Hmmmh, Anda tentu paham yang saya maksudkan. Bahkan rasa manis kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri Anda sendiri. Maka nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak perlu berlebihan.

5. Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah.

Sepah di kebun tebu kami jumlahnya tidak terlalu melimpah. Namun jika dibiarkan tetap saja menjadi sampah. Kami punya banyak pilihan untuk memperlakukannya. Jika kami membuangnya ke kolong kandang domba, maka sepah itu akan menambah nutrisi pada pupuk kandang yang kami dapatkan. Jika kami membuangnya ke kolam ikan, maka dia akan menjadi tempat tumbuhnya plankton dan jentik-jentik makanan penggemuk ikan. Jadi, apanya yang terbuang dari seonggok sepah? Tidak ada. Sepah benar-benar menyadari bahwa dia tidak bisa melawan fitrah. Semua orang yang pernah muda akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. Semua yang kuat menjadi lemah. Itulah fitrah. Tetapi mari sekali lagi kita lihat sang sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah. Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung lagi. Karena dengan keyakinan itu kita kita bisa berharap memetik buah manis tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup. Kita boleh berharap itu, karena iman kita mengajarkan bahwa setiap amal baik yang pernah kita lakukan atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan yang sepadan. Beruntunglah kita yang percaya, karena setidak-tidaknya kita memiliki harapan; bahwa fitrah kita adalah untuk mempersiapkan tempat pulang alam keabadian.

Tidak perlu lagi untuk merasa kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang Anda harapkan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. Tetapi, bukan itu yang perlu menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan, bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis? Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang sendiri.

 

 

Sumber

Senin, 12 Maret 2012

Sekantong Kue


Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka berdua. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya.

Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: ("Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!"). Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki jugamengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir ("Ya ampun orang ini berani sekali"), dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.

Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan, dan ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih!".

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.

Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu. Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi.

Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.

Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.

Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.Kita sering mempengaruhi, mengomentari,mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Kita sering kali mengalami hal di atas, kita sering berpikir bahwa kita paling benar sendiri, kita paling suci, kita paling tinggi, kita paling pintar dan lain sebagainya. Namun di balik kerendahan hati orang lain, sebenarnya mereka peduli dengan kita agar bisa mendengarkan orang lain dengan hati nurani yang baik, tidak selalu berprasangka buruk, orang lain mungkin jauh lebih suci di banding kita, orang lain mungkin lebih pintar dari kita dsb

Bisakan kita memulai untuk bisa rendah hati..

 

Sumber

Tukang Sayur Dermawan






Wanita istimewa ini memilih hidup tanpa kemewahan demi membantu mereka yang kurang beruntung.

Setelah pagi yang hiruk-pikuk, suasana Central Market di Taitung County terasa senyap ketika kios-kios tutup untuk hari itu dan para pemilik pulang ke rumah yang nyaman. Namun satu lampu tetap menyala di sebuah kios sayuran.

Dengan kepala tertunduk, Chen Shu-Chu memilah-milah sayuran sambil menunggu pelanggan siang hari yang sesekali datang. Kerja keras selama beberapa puluh tahun membuat jari-jari tangan kanannya melengkung dan sendi-sendinya bengkak; bentuk kakinya juga sedikit berubah.

Chen menjalani hidup dengan rutinitas harian – bangun pukul tiga pagi, berangkat ke pedagang sayur kulakan, menyiapkan kiosnya dan berjualan sayur di sana sampai pukul tujuh atau delapan malam. Sebagai yang pertama tiba dan yang terakhir pergi, pemilik kios lain dengan penuh sayang menjuluki dia ‘pimpinan pasar’ atau ‘manajer pasar.’

Di dalam pasar yang gelap dan lembap, Chen, hampir 60 tahun, mengurus kios yang diwariskan sang ayah. Bagi Chen, “Yuan-Jin Vegetables” adalah segalanya. Dengan sayuran yang dia jual 'seikat NT$30 (sekitar Rp9.000), tiga ikat NT$50 (Rp15.000),' keuntungan Chen tidak besar. Namun hidup hemat memungkinkan dia menyumbang uang sebesar NT$10.000.000 (nyaris tiga miliar rupiah) untuk berbagai program amal, termasuk menyokong sekolah, panti asuhan dan anak-anak miskin.

Kemurahan hati yang tidak mementingkan diri sendiri dari wanita berpenghasilan kecil itu telah menempatkan dia di bawah sorotan internasional.

Pada Maret 2010, majalah Forbes menyebut dia sebagai salah satu dari 48 dermawan luar biasa dari wilayah Asia Pasifik. Sebulan kemudian, majalah Time memilih 100 orang paling berpengaruh di 2010, dan Chen masuk dalam kategori “Pahlawan Kedermawanan.” Ang Lee, sutradara pemenang Oscar yang juga sesama warga Taiwan, membuat tulisan perkenalan secara pribadi. “Uang hanya berharga jika diberikan kepada mereka yang membutuhkan,” dia mengutip Chen. Sang sutradara juga menulis, “Luar biasa, tetapi dari semua yang dia berikan, talenta terbesarnya adalah memberi teladan.”

Meski menerima penghargaan dari Time di New York, memperoleh pengakuan global dan bertemu Presiden Ma Ying-jeou, yang sesungguhnya dipedulikan Chen adalah kios sayurannya. Jika bukan karena Presiden Ma dan menteri luar negeri yang secara pribadi membujuk dia untuk pergi, dia tidak akan pernah setuju untuk mengunjungi New York karena merasa, “Ini bukan kompetisi dan saya tidak mau memenangkan apa-apa.” Di tengah kesibukan membuat paspor dan mempersiapkan keberangkatan, kekhawatiran utama Chen adalah para langganannya tidak akan bisa mendapat sayuran mereka.

Chen menjadi selebriti di Taitung County. Pemerintah daerah menghiasi kiosnya dengan poster dan spanduk ucapan selamat yang menyanjung dia sebagai “Kebanggaan Taitung” dan “Teladan Kedermawanan.” Bahkan ada ‘penggemar’ yang muncul di kiosnya dengan membawa keranjang sayur dan kamera, berharap untuk memotret Chen.

Meski mendapat banyak perhatian, Chen tetap rendah hati. “Saya tidak melakukan apa-apa yang luar biasa, dan semua orang yang mau, bisa melakukannya. Ada banyak orang yang suka beramal – kita tidak tahu saja tentang mereka,” katanya.

Chen, yang tidak menikah, menambahkan, “Saya tidak menempatkan kepentingan besar pada uang. Ketika saya menyumbang untuk membantu orang lain, saya merasa damai dan bahagia, dan saya bisa tidur nyenyak di malam hari.” Dia juga bersimpati kepada kaum miskin karena dia sendiri hidup sulit di masa muda.

Lahir pada 1950, Chen kehilangan ibunya setelah menyelesaikan sekolah dasar. Ibunya dilarikan ke rumah sakit karena kesulitan melahirkan dan keluarganya harus membayar asuransi sebesar NT$5.000 (1,5 juta rupiah) sebelum perhatian medis dapat diberikan. Chen menyaksikan ayahnya meminta uang kepada tetangga-tetangga mereka, tetapi ibunya terlambat diselamatkan. Sebagai putri sulung di keluarga, Chen harus tumbuh dewasa dalam semalam. Dia meninggalkan pendidikannya dan mengabdikan hidupnya untuk membantu berjualan sayuran.

Ketika berusia 18, adik lelakinya jatuh sakit yang terus berlarut-larut sampai lebih dari setahun, perlahan menguras tabungan keluarga. Para dokter menyarankan keluarganya mengirim sang adik ke Taiwan National University Hospital, tetapi bagaimana mereka bisa membayar biayanya? Huang Shun-zhong, guru di Ren-ai Primary School, membuka donasi untuk keluarga Chen. Sayang, adiknya tidak dapat diselamatkan.

Setelah mengalami kebaikan hati berupa donasi bagi keluarganya, Chen memutuskan untuk membantu kaum miskin begitu dia sanggup. Ketika ayahnya meninggal dunia 17 tahun lalu, Chen, penganut Buddha yang taat, mendermakan uang sebesar NT$1.000.000 (nyaris 300 juta rupiah) ke Fo Guang Shan Monastery.




Pada 2000, dia menyumbangkan jumlah yang sama besarnya kepada almamaternya, Ren-ai Primary School, untuk mendirikan “Emergency Relief Fund” yang membantu anak-anak miskin memperoleh bantuan finansial.

Pendamping dari pembangunan dan pemeliharaan badan amal tersebut adalah Li Guo-rong, yang mengajar keponakan lelaki Chen. Pada 2001, Li punya rencana untuk membangun perpustakaan di sekolah tersebut dan memperkirakan biayanya antara NT$4.000.000 sampai NT$5.000.000 (sekitar satu miliar rupiah). Ketika ia mendekati Chen, dengan harapan wanita itu akan menyumbang NT$50.000 (15 juta rupiah), Li terkejut saat Chen berkata, dia akan mendanai seluruh proyek.

Sementara pihak sekolah merasa skeptis, Chen merasa yakin. Pada Mei 2005, perpustakaan dua lantai tersebut selesai dibangun dan dinamai “Perpustakaan Chen Shu-Chu” untuk menghormati alumnus sekaligus “Pahlawan dari Pasar Sayur.” Dia telah mendonasikan NT$4.500.000 (1,3 miliar rupiah).

Kemampuan Chen untuk mendermakan uang dalam jumlah besar membuat banyak orang bertanya-tanya, “Kok, bisa seorang tukang sayuran menghasilkan uang sebanyak itu?”

“Pakai yang Anda butuhkan saja, dan Anda akan bisa menyisihkan begitu banyak uang!” ujar Chen. Sejak 1996, dia telah mendonasikan NT$36.000 (Rp10.750.000) untuk membantu tiga anak di organisasi Kidsalive International. Untuk mewujudkan itu, Chen menjelaskan bahwa dia memindahkan seluruh uang koinnya ke tiga kotak kardus kecil di rumah setiap malam. “Ini tindakan sederhana yang bisa dilakukan semua orang, kan?” tanya Chen.

Chen menjalani hidup yang amat sederhana, tanpa sedikit pun kemewahan. Dia tidak berminat kepada materi maupun bentuk kenikmatan apa pun. Bekerja, katanya, adalah kenikmatannya. “Saya cinta pekerjaan saya. Jika tidak, mana mungkin saya sanggup bekerja 16 jam sehari?” tuturnya.

Yang dibutuhkan Chen hanyalah makanan dan tempat untuk tidur. Semua hal lain di luar itu adalah kemewahan. Dia tidak membeli baju-baju mahal karena, “Saya tidak banyak bersosialisasi, maka tidak ada kebutuhan akan pakaian indah. Baju dari kios pinggir jalan sudah cukup baik untuk saya, dan bahkan di situ, saya suka menawar.”

Makanannya sehari-hari hanya butuh sedikit uang, yaitu untuk semangkuk nasi vegetarian dan semangkuk mi seharga NT$55 (Rp16.000). Bekukan apa pun yang tidak habis, keluarkan lagi uang sebesar NT$20 (Rp5.900) untuk sekaleng gluten dan tambahkan ke nasi dengan sedikit air panas. “Jadilah bubur yang rasanya amat enak,” kata Chen.

Dia juga tidur di atas lantai, kebiasaan dari masa muda ketika mulai bekerja di kios sayur. Kenyamanan ranjang yang hangat membuatnya sulit bangun pagi untuk berangkat ke pedagang kulakan, terutama selama bulan-bulan musim dingin. Karena itu, Chen memutuskan untuk tidur di lantai yang dingin, tempat dia tak akan berisiko terlambat.

Jadi, apakah bisnisnya meningkat setelah memenangkan penghargaan? “Berjalan seperti biasa,” ujar Chen. “Saya masih perlu menjual sayur-mayur saya, tidak banyak yang berubah.” Para pembuat iklan mendekati dia untuk membuat iklan, manajer-manajer keuangan menawarkan untuk mengelola keuangannya dan sejumlah pihak berniat baik menawarkan sumbangan uang untuk dia. Chen menolak semua tawaran itu dengan sopan. “Mengembalikan pinjaman uang itu mudah, tetapi mengembalikan kebaikan itu sulit,” kata Chen.

“Saya harus amat berhati-hati dalam menangani persoalan uang,” tambah Chen. Bahkan ketika pelanggan memberi tip, dia tidak mau menerima. “Membeli dari kios saya sudah merupakan bentuk dukungan,” dia menjelaskan.

Satu-satunya iklan yang pernah Chen terima adalah untuk Bureau of National Health Insurance dalam kenangan atas bundanya tercinta. Chen meminta seluruh pengambilan gambar dilakukan di dekat kiosnya sehingga tidak mengganggu bisnisnya. Pembayaran yang mau dia terima dari biro tersebut hanya sehelai kaos warna hitam.

Sejak pulang dari New York, Chen bekerja semakin keras. Dia punya tujuan baru: mengumpulkan NT$10.000.000 (Rp2,9 miliar) untuk mendirikan “Chen Shu-Chu Bursary” atau “Beasiswa Chen Shu-Chu” yang ditujukan untuk membantu anak-anak miskin membayar biaya sekolah dan tagihan medis, hal-hal yang tidak sanggup dia dapatkan ketika masih kecil.

“Yang saya butuhkan hanyalah menjual sayur sedikit lebih banyak dan menyisihkan uang sedikit lebih banyak, selain membayar sejumlah polis asuransi yang mendekati akhir periode. Banyak orang juga bersedia menyumbang. Saya yakin, tak akan ada masalah,” kata Chen dengan yakin.

Li, yang menganggap Chen sebagai kakak, berkata bahwa mendirikan badan beasiswa sesungguhnya merupakan cara yang bagus untuk membiarkan Chen pensiun dari menjual sayuran dan mulai menggunakan reputasinya untuk memengaruhi masyarakat. Harapannya, akan muncul lebih banyak “Chen Shu-Chu” yang dermawan.

“Filosofi hidup saya sederhana: Jika melakukan sesuatu membuat Anda cemas, maka itu pasti hal yang salah. Jika itu membuat Anda bahagia, maka Anda pasti telah melakukan hal yang benar. Apa yang dikatakan orang lain tidak penting,” kata Chen. Dia puas dengan apa yang dia miliki, dan merasa selama dia menjalani hidup yang dia harapkan, melakukan hal-hal yang dia inginkan, itu sudah cukup baik.

(Gao Ruo Wu; Foto Marc Gerritsen)






Senin, 05 Maret 2012

10 Kisah Orang-orang yang Sukses Besar Setelah Resign

Jakarta - Pernahkah Anda berharap ingin berhenti dari pekerjaan sekarang dan mewujudkan mimpi Anda? Bisa saja nasib baik berpihak Anda, seperti orang-orang ini. Mereka bisa mendulang sukses setelah meninggalkan pekerjaan yang memberikan mereka gaji tetap.

Kesuksesan setelah berhenti dari pekerjaan kantoran Anda memang bukan jaminan. Namun untuk beberapa orang bisa beruntung setelah mengatakan 'Saya berhenti". Dengan kerja keras dan kebulatan tekad, mereka kini bisa berbalik mendulang sukses.

Berikut kisah sukses orang-orang setelah berhenti dari pekerjaannya. Orang-orang ini bisa mendulang jutaan dolar dan menciptakan kekayaannya sendiri. Berikut 10 orang-orang beruntung itu, seperti dikutip dari CNBC, Rabu (26/1/2012).

1. Shep dan Ian Murray, Vineyard Vines



Dua bersaudara, Shep dan Ian Murray ini merasa frustasi dengan pekerjaan mereka di belakang meja pada sebuah perusahaan di Manhattan. Shep Murray sebelumnya adalah seorang Account Executive di sebuah perusahaan periklanan, sementara Ian Murray bekerja di sebuah perusahaan public relation kecil. Pada tahun 1998, Shep Murray mengundurkan diri, disusul saudaranya 10 menit kemudian.

Mereka selanjutnya mengambil tunai dari kartu kredit untuk mulai mendirikan Vineyard Vines, sebuah dasi yang berbasis di Martha's Vineyard. Ide mereka mengambil uang tunai dari kartu kredit sempat dicemooh dan dinilai bodoh.

Pada awalnya, mereka menjual dasi-dasi itu di tas ransel, di pantai, di kapal dan di bar. Mereka menjual habis 800 dasi dalam pekan pertama. Mereka dengan cepat memasannya lagi, membayar utang dan pindah ke kantor pertamanya. Satu dekade kemudian, bisnis mereka kini meliputi seluruh clothing line.

Saat ini ada 18 toko ritel Vineyard Vine di seluruh negara, dan jaringannya dapat ditemukan di hampir 500 toko. Vineyard Vine diperkirakan mampu mencetak penjualan hingga US$ 100 juta pada tahun 2011.

2. Rick Wetzel dan Bill Phelps, Wetzel's Pretzels



Rick Wetzel dan Bill Phelps dulunya sama-sama bekerja di Nestle ketika konsep Wetzel's Pretzels terlahir. Keduanya sedang dalam perjalanan bisnis ketika Wetzel mengatakan kepada Phelps tentang ide istrinya untuk membuat pretzel yang besar dan lembut dan dijual di mal. Malam itu, mereka duduk di bar dan menggambarkan rencana bisnisnya pada sebuah kain serbet.

Wetzel kemudian menjual Harley Davidson miliknya untuk mendanai bisnis yang dijalankannya di waktu senggang itu. Mereka menggandeng partner untuk menciptakan resep di dapur Phelp. Dan ketika waktunya tiba untuk membuka toko, mereka mencoba meyakinkan pemilik mal untuk datang ke rumah mereka dan mencoba kreasinya. Dan ternyata pemilik mal itu menyukai rasanya, sehingga mau menyewakan tempat untuk toko pertama Wetzel's Pretzels.

Itu adalah tahun 1994. Setahun kemudian, Wetzel dan Phelps mendapatkan keberuntungannya ketika mereka mendapatkan beberapa paket penawaran (untuk berhenti) dari Nestle. Mereka membuka lagi beberapa toko sebelum memutuskan untuk mewaralabakannya pada tahun 1995. Saat ini tercatat ada 250 toko Wetzel's Pretzel di seluruh AS, dengan lokasi di Jepang dan India diharapkan dibuka pada tahun ini. Penjualan di seluruh wilayah diperkirakan mencapai US$ 100 juta dengan pertumbuhan penjualan mencapai 9% pada tahun 2011.

3. Terry Finley, West Point Thoroughbreds



Terry Finley menyelesaikan tugas militernya pada tahun 1990 ketika dia dan istrinya, Debbie kemudian membeli kuda seharga US$ 5.000. Kuda yang diberi nama Sunbelt itu memenangkan pacuan pertamanya dan Finley pun tersangkut.

"Melakukan apa yang Anda cintai dan membuatnya profesional adalah jauh lebih baik ketimbang hanya sekedar bekerja untuk hidup," jelas Finley.

West Point Thoroughbreds sekarang membeli 20-25 kuda setiap tahun, membentuk kelompok investor yang dapat meraup laba ketika kuda-kudanya menang, mengembangbiakkan dan menjual. Sejak tahun 2007, kuda-kuda mereka telah memenangkan lebih dari 20% pacuan, sehingga membuat mereka bisa meraup US$ 16 juta. Penjualan tahunan mereka mencapai US$ 7 juta.

4. Dana Sinkler dan Alex Dzieduszycki, Terra Chips



Dana Sinkler dan Alex Dzieduszycki sebelumnya bekerja untuk chef bintang, Jean-Georges Vongerichten di restoran bintang empatnya, Lafayette di New York. Mereka kemudian memutuskan berhenti dan memulai bisnia ketering pertamanya. Mereka ingin menciptakan sebuah sajian khusus untuk disajikan di bar, namun mereka ingin sesuatu yang berbeda dari elaborasi satu piringan penuh sayuran atau crudité platters, yang populer pada saat itu. Jadi pada tahun 1990, mereka bereksperimen dengan menggoreng sayur-sayuran di dapur apartemen kecil Sinkler.

Dan ternyata keripik sayur-sayuran kreasi mereka 'Terra Chips' menjadi sangat populer dan bisa dijual di toko. Sebuah perusahaan swasta membeli 51% saham mereka pada tahun 1995, dan pada tahun 1998 Hain Celestial membeli Terra Chips sebagai bagian dari kesepakatan senilai US$ 80 juta dengan 3 perusahaan lain. Pada saat itu, ujar Dzieduszycki , Terra Chips memiliki penjualan hingga US$ 23 juta.

Sinkler dan Dzieduszycki telah bergerak ke perusahaan baru. Sinkler kini telah memulai bisnis restoran baru yang disebut Hubee D's, sementara Dzieduszycki memulai Julian's Recipe, yang menjual waffle beku.

5. Adam Lowry dan Eric Ryan, Method



Adam Lowry dulunya bekerja sebagai ilmuwan iklim, sementara Eric Ryan bekerja di bidang periklanan. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mengembangkan bisnis produk pembersih yang ramah lingkungan, Method. Pada saat itu tidak banyak pilihan untuk produk kebersihan yang tidak mengandung unsur-unsur kimia berbahaya. Sehingga dua orang yang berteman baik sejak anak-anak itu mulai melakukan riset dan Lowry bahkan mencampur bahan kimia di bak cuci apartemen mereka.

Mereka juga menarik uang tunai dari kartu kredit, dan menggabungkan dana hingga US$ 200.000 dari keluarga, teman dan memulai Method pada tahun 2000. Method telah menjadi sebuah perusahaan swasta dengan pertumbuhan paling cepat di Amerika dengan produk sekitar 100 mulai dari sabun tangan hingga sabun cuci piring dan pembersih kamar mandi. Pendapatan kotor perusahaan itu diperkirakan mencapai US$ 100 juta.

6. Rod Johnstone, J/Boats



Rod Johnstone berusia 38 tahun dan bekerja sebagai sales untuk publikasi kapal ketika memutuskan untuk berhenti dan mewujudkan mimpi perahu layarnya. Ia semula sangat menikmati, namun kemudian merasa pertumbuhannya tidak cukup cepat. Orang tuanya kemudian mendonasikan kayu yang bernilai beberapa ratus dolar, dan Johnstone kemudian mulai membangun kapal di garasinya. Satu setengah tahun kemudian kapal impiannya rampung dan ia mulai mengikutkannya dalam perlombaan. Didorong oleh kesuksesannya, Johnstone memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mewujudkan impiannya.

Itu adalah tahun 1977. Setelah itu, J/Biats telah membangun lebih dari 13.000 kapal, dari yang kecil hingga kapal pesiar mewah sehingga mendatangkan pendapatan hingga jutaan dolar. Desain awal Johnstone, J/24 kini ada di Sailboat Hall of Fame.

7. Andy Schamisso, Inko's White Tea



Pada tahun 2002, Andy Schamisso bekerja sebagai public relations namun tidak merasa nyaman. Suatu hari, ketika istrinya tidak dapat menemukan teh putih yang jarang untuk es tehnya, Schamisso menemukan panggilannya. Ketika sedang mencarinya di internet, ia menemukan keuntungan keseatan dan memutuskan membawa resep istrinya ke orang lain.

Jadi setelah 13 tahun di perusahaan PR, Schamisso memutuskan untuk berhenti bekerja dan memulai Inko’s White Tea, yang dinamakan seperti anjingnya. Setelah mendapatkan cukup uang untuk membuat 6.000 kotak, Schamisso pergi ke jalanan di New York untuk menjual produknya. Setahun kemudian, order sudah beruba dari kardus-kardus ke truk-truk. Saat ini ada 14 jenis Inko’s White Tea di pasar. Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan tahunan perusahaan mencapai US$ 3 juta.

8. Kim dan Beaver Raymond, Marshmallow Fun Company



Kim dan Beaver Raymond, keduanya sama-sama mengatakan "Saya Berhenti" setelah mainan yang semula mereka ciptakan untuk anak-anak mereka berubah menjadi mainan yang sangat hits. Dua bersaudara itu sebelumnya sama-sama bekerja di industri fesyen. Pada tahun 2002, mereka membuat mainan tembakan dari pipa PVC untuk pesta ulang tahun anak mereka. Dipicu oleh kesuksesan pertempuran makanan yang mereka saksikan, pasangan itu dan beberapa temannya kemudian menggambarkan bagaimana membangun dan memasarkan mainan baru tersebut.. dan Marshmallow Fun Company terlahir.

Pada tahun 2010, Marshmallow Fun Company menjual lebih dari 7 juta tembakan mainan anak-anak.

9. Rocky Patel, Rocky Patel Cigars



Rocky Patel merupakan pengacara entertainment Hollywood, sebelum akhirnya sukses mengembangkan bisnis cerutu. Setelah didekati untuk kemungkinan memroduksi brand cerutunya sendiri, Patel memutuskan untuk mengubah kecintaannya menjadi sebuah karir. Padahal teman-teman dan koleganya telah mengingatkan dia yang akan meninggalkan praktik hukumnya untuk industri yang ia belum ketahui. Namun Patel melihat sebuah kesempatan untuk menciptakan produk yang ia pikir hilang dari pasar. Jadi iapun meninggalkan bisnis hukum dan mulai memroduksi cerutu pada tahun 1996, mengubah rumahnya di California menjadi kotak tembakau.

Setelah awal yang sangat sulit, Patel memutuskan untuk memindahkan bisnisnya ke Florida dimana sebagian besar perusahaan cerutu AS berada. Ia mendapat sukses besar pada tahun 2003 dengan Rocky Patel Vintage Series yang mendapatkan peringkat tinggi dan pujian.

Rocky Patel Cigars saat ini memroduksi 200.000 cerutu setiap tahunnya, dengan penjualan lebih dari US$ 40 juta pada tahun 2011.

10. Paul English, Kayak



Paul English bekerja di sebuah perusahaan modal, Greylock pada tahun 2004 ketika Steve Hafner yang mendirikan Orbitz mengungkapkan ide untuk membuat perusahaan perjalanan yang berbeda. Setelah melakukan pertemuan selama 1 jam dan 3 gelas minuman, English dan Hafner membentuk Kayak, sebuah mesin pencari perjalanan online. English pun berhenti dari pekerjaannya di Greylock dan mulai menjadi chief technology officer untuk website baru itu.

Kayak menjadi tempat pencarian ratusan situs perjalanan yang lengkap karena ada tarif pesawat, hotel, sewa mobil dan kini berada di peringkat 1 untuk pasar tersebut. Kayak juga menyampaikan dokumen untuk IPO pada tahun 2010, meski hingga kini belum juga dilakukan. Perusahaan tersebut dilaporkan meraup pendapatan hingga US$ 170,6 juta pada 9 bulan pertama di 2011. Kayak memproses 670 juta pengguna informasi perjalanan dan memiliki 5 juta download aplikasi mobile pada periode tersebut.

(qom/qom)



Sumber detik finance