Rabu, 20 Juni 2012

DOA ANAK YATIM MENYEMBUKAN AMNESIA



Setelah didoakanya, sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi. Aku yang semula mengalami nyeri kepala dan sekujur tubuh terasa pegal dan linu, pelan-pelan mulai pulih kembali. Aku yang sebelumnya tidak mengenal siapa-siapa, setelah itu mulai bisa mengenal orang satu persatu; mulai dari keluarga hingga teman-teman dekatku. Sedikit demi sedikit, memoriku kembali pulih, daya ingatku bekerja kembali. Aku pun kembali belajar mengenali, menulis dan menghapal nama teman-temanku.

Firman Allah swt dalam surat. al-Maa`un di atas kiranya tak perlu disangsikan lagi. Dia yang Maha Agung begitu tegas mewanti-wanti hamba-Nya untuk tidak menghardik anak yatim. Sebab, bila hal itu dilanggar kelak sebuah balasan Allah bisa saja terjadi.

Dan sebagai bahan teguran dan peringatan, tak sedikit kisah orang-orang yang mendapatkan balasan Allah lantaran menghardik anak yatim itu. Berkat kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, kita bisa saja mengalami suatu hal yang tidak pernah kita duga-duga. Pasalnya, anak yatim itu anak yang tengah dititipkanAllah untuk kita sayangi dan santuni, bukan sebaliknya, kita sakiti.

Anehnya, kita kerapkali baru tersadar dengan peringatan Allah itu setelah titah-Nya kita langgar. Hal inilah yang pernah kualami kurang lebih delapan tahun yang lalu. Akibat menghardik anak yatim yang masih sepupuku, aku pun mendapat balasan Allah. Aku mengalami kecelakaan. Aku pun sempat hilang ingatan. Aku amnesia.

Untung, sepupuku yang yatim itu mau memaafkanku. Ia mau mendoakan untuk kesembuhanku. Atas kuasa Allah dan berkat doa sepupuku itu, aku sembuh dan sadar kembali. Berikut ini kisahku yang semoga menjadi bahan pelajaran untuk pembaca lainnya.

Tidak Membelikan Tas

Peristiwa ini terjadi sekitar 8 tahun yang lalu. Saat itu, aku masih seorang remaja yang baru gede (ABG). Sebagaimana lazimnya remaja yang suka bersenang-senang, demikian pula diriku. Kesenangan itulah yang membuatku kerap tidak menghiraukan hak-hak orang lain, termasuk hak anak yatim yang seharusnya dimuliakan.

Syahdan, suatu hari, Siti Rahayu, perempuan yatim yang juga sepupuku, menitipkan uang kepadaku untuk dibelikan tas punggung. Tapi, amanah yang diberikannya itu justru tidak kutunaikan. Lebih dari itu, aku malah menggunakan uang titipanya untuk bersenang-senang. Bersama teman-teman, kugunakan uangnya untuk berfoya-foya.

Waktu berlalu. Tibalah saat Rahayu menagih tas titipannya. “Ucu, mana tas titipanku kemarin?”

Tentu saja, aku blingsatan atas pertanyaanya itu. Aku bingung menjawab sejujurnya. Sejenak, aku terdiam, memikirkan apa yang harus kulakukan. Akhirnya, aku tidak menjawab sepatah kata pun.

“Ucu, mana tas itu?” sepupuku kembali bertanya, penasaran.

Dan bingung masih menyergapku. Apa yang harus kukatakan. Aku pun kembali terdiam. Ia kian penasaran dan terus merangsek diriku untuk cepat menjawabnya. Akhirnya aku pun menjawab sembarangan dan asal-asalan, “Aku belum membelikan tas itu. Mungkin besok…”

“Kenapa tidak segera kau belikan? Pasti kamu tidak mau membelikannya karena aku tidak memberimu uang lebih untuk ongkos jalanmu, ya?”

Ucapan sepupuku itu membuat telingaku seperti tersengat aliran listrik, semakin membuatku ditikam amarah. “Tidak… !Masalahnya...tempat itu jauh...” jawabku sekenanya.

Sayangnya, jawabanku itu tidak membuatnya tenang. Apalagi, keesokan harinya aku belum juga pergi ke toko tas untuk memenuhi janjiku, membelikan tas punggung titipannya. Tak aneh, bila ia pun kembali bertanya, “Ucu, mana tas titipanku…?”

Pertanyaan sepupuku itu membuatku tersudut di lorong kehampaan. Aku pun diliputi perasaan benci padanya, lantaran dia kembali menanyakan titipan tas punggung itu, sementara uang yang ia titipkan sudah ludes karena telah kugunakan untuk bersenang-senang.

Aku seketika dibakar api amarah. Aku tidak terima pertanyaan yang seolah-olah menghakimi diriku. Ubun-ubunku terasa panas. Otakku tidak lagi bisa berpikir jernih. Ia begitu menyengatku hingga, tanpa berpikir lagi, kumuntahkan kemarahanku kepadanya. Tiba-tiba, kuambil sebatang kayu (dari patahan bangku). Kupukul pundaknya dan kutampar kepalanya dengan kesalnya. Kulihat memar dan luka di bagian kepalanya. Ia pun menangis. Tiba-tiba aku tersadar kembali.

Segumpal penyesalan merasuk di hatiku . Seharusnya, aku tak bertindak seperti itu. Seharusnya, aku memberikan kasih sayang padanya, menolongnya dalam kesusahan, agar sepupuku itu sabar dan tabah jadi anak yatim dalam menjalani hidup untuk meraih cita-cita yang diimpikannya.

Tapi, semua itu tidak aku pikirkan. Aku jadi sedih.

Balasan dari Allah

Dua bulan setelah menganiaya anak yatim yang masih sepupuku itu, Allah memberi tamparan kepadaku. Kala itu, ketika mengendarai sepeda motor bersama seorang teman untuk nonton konser musik di sebuah mal di Karawang, peristiwa nahas menimpaku.

Dalam perjalanan menuju mal itu, kami mengalami kecelakaan tragis di jalan beraspal di Lemah Abang Citaryk, daerah Jatirejo, Kecamatan Cikararang Timur, persis daerah Persawahan, 100 meter dari pintu lintasan kereta api. Sewaktu kami menyalip bis berkecepatan tinggi, tanpa kami duga, ternyata ada truk melaju begitu kencangnya. Kami tak bisa menghindar dari momen yang tak menguntungkan itu. Akhirnya, kami menubruk truk yang melaju dari depan itu.

Setelah motor yang kami kendarai itu menubruk truk, aku jatuh terpelanting di jalan beraspal. Tubuhku memantul dan lantas tersuruk ke pinggiran jalan beraspal, yang penuh kerikil tajam. Seketika aku pun mengalami pendarahaan hebat dan patah tulang.

Kejadian itu seperti sebuah mimpi. Aku seperti sedang mengalami mati suri. Aku tak sadarkan diri. Konon, dari cerita yang sempat kudengar, banyak petani yang kebetulan bercocok tanam di sawah berlarian menolongku, dan segera melaporkan tragedi kecelakaan itu ke aparat setempat (polisi). Karena kondisiku sedang kritis, maka aku pun dilarikan ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Medika Cikarang Baru.

Sempat Hilang Ingatan

Di Rumah Sakit Medika Cikarang Baru itu, aku dirawat kurang lebih selama dua belas hari. Selain mengalami pendarahan dan patah tulang, aku ternyata mengalami hilang ingatan (amnesia). Keluargaku panik sekali dan bingung bukan main. Saat bingung itulah, saudara kandung Siti Rahayu yang tahu aku kerap menganiaya sepupuku yang yatim berinisiatif untuk meminta maaf. Bahkan, paman Siti Rahayu memintanya untuk mendoakanku agar segera sembuh dan pulih kembali.

Saat itu, kata keluargaku, aku hampir amnesia seumur hidup. Bermacam-macam obat yang diberikan orangtua telah aku konsumsi. Aku diingatkan dengan sejumlah foto orang yang pernah kukenal sejak kecil. Juga foto-foto kedua adikku. Aku diminta belajar terus-menerus untuk mengenal huruf-huruf abjad agar kembali ingat dan sembuh dari penyakitku seperti sedia kala. Bermacam cara telah diterapkan dan dipraktekkan kedua orangtuaku, tetapi belum juga memberikan hasil.

Akhirnya, Siti Rahayu, anak yatim yang masih sepupuku itu, mau memaafkanku. Bahkan ia mau mendoakanku agar lekas sembuh. Waktu itu, Sity Rahayu memintaku untuk bersabar menghadapi cobaan itu. Ia mendoakanku seraya mengutip QS. Yaasiin [36]: 83, “Fa subhaana alladzy biyadihi malakutu kulli syaiin wa ilaihi turja’un..” [Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Setelah didoakanya, sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi. Aku yang semula mengalami nyeri kepala dan sekujur tubuh terasa pegal dan linu, pelan-pelan mulai pulih kembali. Aku yang sebelumnya tidak mengenal siapa-siapa, setelah itu mulai bisa mengenal orang satu persatu; mulai dari keluarga hingga teman-teman dekatku. Sedikit demi sedikit, memoriku kembali pulih, daya ingatku bekerja kembali. Aku pun kembali belajar mengenali, menulis dan menghapal nama teman-temanku.

Setelah terpuruk dalam kondisi patah tulang, nyeri bagian kepala dan hilang ingatan selama satu bulan dua belas hari, akhirnya kesehatanku pulih kembali. Dan kesembuhanku ini kiranya karena Allah swt mengabulkan doa anak yatim yang telah kuaniaya itu, sepupuku yang sudah kuzalimi itu. Ah, aku kian menyesal. Aku merasa berdosa sekali kepadanya.

Aku yang sudah sering menzaliminya, merampas hak miliknya, tetapi masih mau memaafkanku, dan bahkan mendoakan kesembuhan diriku. Sejak kejadian itu, aku sadar bahwa Allah telah memberi teguran kepadaku lantaran aku pernah menghardik dan menganianya anak yatim yang masih sepupuku.

Kini, aku sadar bahwa merampas hak dan menganiaya anak yatim adalah dosa besar. Aku juga sadar bahwa menghardik anak yatim bisa mendatangkan balasan dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bahkan, aku sepenuhnya sadar bahwa doa anak yatim itu sungguh-sungguh mustajab dan makbul, karena anak yatim itu adalah titipan Allah yang seharusnya disantuni dan disayangi, bukan untuk dizalimi atau dihardik.

Bahkan, Nabi Muhammad saw dalam haditsnya sering menyinggung bahwa ia dan anak yatim itu serupa telunjuk dan jari manis. Hal ini menggambarkan betapa Nabi sangat mengasihi anak yatim. Yah, ajaran agama memang meminta kita untuk menyayangi anak yatim. Bahkan, konon, jika kita sering berbuat baik kepada anak yatim, entah itu menyantuni, menyekolahkan hingga mengasuhnya, banyak anugerah Allah yang dilimpahkan kepada kita. Sebab, doa anak-anak yatim yang tulus sering memperlancar usaha kita. Hal ini, tentu saja, selain kita mendapatkan nikmat dunia, tapi juga mendapat keridhaan Allah.

Namun sebaliknya, apabila kita menganiaya dan menzalimi mereka, maka Allah akan melimpahkan senarai siksa pedih, baik dunia maupun akhirat kelak. Na’udzubillah.

Pedoman itulah yang saat ini kupegang dan coba kujalani. Sebenanrnya kedua orangtuaku telah mengajarkan agama kepadaku, termasuk soal penghargaan terhadap anak yatim itu. Tetapi aku tidak mengindahkannya. Aku hanyut dalam dunia pergaulan anak sekarang yang lebih banyak foya-foya dan melanggar rambu-rambu Allah. Hingga Allah kemudian menyadarkanku dengan kejadian kecelakaan tragis yang hampir merenggut ingatanku itu.

Maka, setelah sembuh, aku langsung meminta maaf kepada Siti Rahayu, sepupuku yang yatim itu. Kini, dia sudah kuanggap seperti adik sendiri, dan aku tidak akan menzalami dan menghardiknya lagi.

Kini aku sudah pulih dan sembuh seperti sedia kala. Meski sesekali kondisiku bisa kumat. Aku kadang-kadang masih merasakan nyeri di kepala jika sedang banyak pikiran atau saking pusingnya. Kendati demikian, aku bersyukur kepada Allah, karena Ia telah mengembalikan daya ingatanku. Aku tidak tahu, apa jadinya jika sepupuku yang yatim dan dulu sering kuzalami itu tidak mau memaafkan dan mendoakan kesembuhanku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kepadaku.

Untuk itu, aku berharap cerita ini bisa menyadarkan pembaca semua bahwa anak yatim itu adalah titipan Allah, dimana kita jangan sekali-kali menghardiknya apalagi sampai tega menganiayanya. Bukankah Allah swt dengan tegas telah memperingatkan kita semua bahwa menghardik anak yatim itu termasuk mendustakan agama, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur`an, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim” (QS. al-Ma`un [117]: 1-2).


 

 

 

 

Sumber

Jumat, 18 Mei 2012

Jenazah Sahabat Nabi Tetap Utuh Setelah Ratusan Tahun



Jenazah Sahabat Nabi Tetap Utuh Setelah Ratusan Tahun Pada tahun 1932 (atau tahun 1351H), raja Iraq yang bernama Shah Faisal I bermimpi dimana dalam mimpinya ia ditegur oleh Hudhaifah al-Yamani (salah seorang sahabat Nabi) yang berkata:

"Wahai raja! Ambillah jenazahku dan jenazah Jabir al-Ansari (juga salah seorang sahabat nabi) dari tepian sungai Tigris dan kemudian kuburkan kembali di tempat yang aman karena kuburanku sekarang dipenuhi oleh air; kuburan Jabir juga sedang dipenuhi oleh air."

Mimpi yang sama terjadi berulang-ulang pada malam-malam berikutnya akan tetapi raja Faisal I tidak peduli dengan mimpi itu karena ia merasa ada hal-hal lain yang jauh lebih penting dalam kehidupannya yang berupa urusan-urusan kenegaraan. Pada malam ketiga Hudhaifa al-Yamani hadir dalam mimpi Mufti Besar Iraq. Hudhaifa al-Yamani berkata dalam mimpi sang Mufti itu:


"Aku telah memberitahu raja dua malam sebelumnya untuk memindahkan jenazahku akan tetapi tampaknya ia tidak peduli. Beritahukanlah kepada raja agar ia mau sedikit berempati untuk memindahkan kuburan-kuburan kami."

Lalu setelah mendiskusikan masalah ini, raja Faisal, disertai oleh Perdana Menteri dan Mufti Besar bermaksud untuk melaksanakan tugas ini. Diputuskan bahwa Mufti Besar akan memberikan fatwa mengenai hal ini dan Perdana Menteri akan memberikan pernyataan kepada pers supaya semua orang tahu tentang rencana besar ini. Kemudian diumumkan kepada umum bahwa rencana ini akan dilangsungkan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat Dzhuhur dan Ashar. Kuburan kedua sahabat Nabi itu akan dibuka dan jenazahnya (atau mungkin kerangkanya) akan dipindahkan ke tempat lain.

Karena pada waktu itu sedang musim haji, maka para jamaah haji juga ikut berkumpul di kota Mekah. Mereka meminta Raja Faisal I untuk menunda rencana itu selama beberapa hari agar mereka juga bisa melihat dengan mata kepala sendiri proses ekskavasi dari kedua tubuh sahabat nabi itu. Mereka ingin agar proses ekskavasi itu ditunda hingga mereka selesai beribadah haji. Akhirnya Raja Faisal setuju untuk menangguhkannya dan mengundurkannya hingga tanggal 20 Dzulhijjah.


Setelah shalat Dzuhur dan Ashar, pada tanggal 20 Dzulhijjah tahun 1351 (Hijriah) atau tahun 1932 Masehi, orang-orang berdatangan ke kota Baghdad. Yang datang bukan saja kaum Muslimin melainkan juga kaum Non-Muslim. Mereka berkumpul di kota Baghdad hingga penuh sesak. Ketika kuburan Hudzaifa al-Yamani dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di dalamnya. Tubuh Hudzaifa al-Yamani diangkat dengan menggunakan katrol dengan sangat hati-hati agar tidak rusak dan kemudian jenazah yang tampak masih sangat segar itu dibaringkan di sebuah tandu. Kemudian Raja Faisal beserta Mufti Besar, Perdana Menteri dan Pangeran Faruq dari Mesir mendapatkan kehormatan untuk mengangkat tandu itu bersama-sama dan kemudian meletakkan jenazah segar itu ke sebuah peti mati dati kaca yang dibuat khusus untuk menyimpan jenazah-jenazah itu. Tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan ke peti mati dari kaca yang sama dengan cara yang sama hati-hatinya dan dengan segenap penghormatan.

Pemandangan yang sangat menakjubkan itu sekarang sedang dilihat oleh banyak orang laki-laki dan perempuan, muda dan tua, miskin dan kaya, Muslim dan Non-Muslim. Kedua jenazah suci dari sahabat sejati Nabi yang kurang dikenal kaum Muslimin ini kelihatan masih segar dan tak tersentuh bakteri pengurai sedikitpun. Keduanya dengan mata terbuka menatap kedepan menatap kenabian yang mana keduanya membuat para penonton terperangah dan tak bisa menutup mulutnya.

Kebisuan mengharu biru ...

Mereka seolah tak percaya atas apa yang mereka saksikan pada hari itu.

Selain tubuh keduanya yang tampak segar bugar, juga peti mati mereka yang juga tampak masih utuh dan baru; juga pakaian yang mereka kenakan pada saat dikubur semuanya utuh dan kalau dilihat sekilas seolah-olah kedua sahabat nabi dan pahlawan Islam ini masih hidup dan hanya terbaring saja.

Kedua jasad suci ini akhirnya dibawa dan dikebumikan kembali di kuburan yang baru tidak jauh dari kuburan sahabat sejati nabi lainnya yaitu Salman Al-Farisi yang terletak di SALMAN PARK kurang lebih 30 mil jauhnya dari kota Baghdad. Kejadian ajaib ini sangat mengundang kekaguman para ilmuwan, kaum filsafat, dan para dokter. Mereka yang biasanya sangat sering berkicau memberikan analisa sesuai dengan bidangnya masing-masing, kali ini tertunduk bisu terkesima dengan kejadian yang teramat langka.

Salah satu dari mereka ialah seorang ahli fisiologis dari Jerman yang kelihatan sekali sangat tertarik dengan fenomena ini. Ia sangat ingin melihat kondisi tubuh jenazah kedua sahabat nabi itu yang pernah dikuburkan selama kurang lebih 1300 tahun lamanya. Oleh karena itu, ia serta merta langsung mendatangi Mufti Besar Iraq. Sesampainya ia di tempat dimana peristiwa akbar itu terjadi, ia langsung memegang kedua tangan sang Mufti dengan eratnya sambil berkata:

"BUKTI APALAGI YANG BISA LEBIH MENGUATKAN BAHWA ISLAM ITU BENAR. AKU SEKARANG AKAN MASUK ISLAM DAN TOLONG AJARI AKU TENTANG ISLAM"

Di hadapan orang banyak beribu-ribu jumlahnya yang menyaksikan dirinya, dokter dari Jerman itu menyatakan keIslamannya. Demi melihat itu banyak orang lainnya yang beragama Kristen atau Yahudi turut juga menyatakan diri sebagai Muslim pada saat itu karena mereka telah melihat bukti yang sangat nyata dipampangkan di depan mereka. Ini bukan yang pertama dan terakhir. Masih banyak lagi kaum Nasrani dan Yahudi serta dari agama lain yang berbondong-bondong masuk Islam karena telah menyaksikan atau turut mendengar kejadian aneh nan menakjubkan.

 

 

Sumber

Kamis, 17 Mei 2012

Luar Biasa, Ayat Alquran Muncul di Tubuh Bayi



DAGESTAN -- Seorang bayi berusia sembilan bulan bernama Ali menjadi perhatian umat Islam di Republik Dagestan, Rusia.  Betapa tidak. Di bagian kaki sang bayi ajaib itu terdapat tulisan ayat Alquran.


Sejak kelahirannya, tanda lahir dalam bentuk tulisan Arab telah muncul di tubuh Ali. "Awalnya, ada hematoma di dagunya. Ketika memar itu meledak, kami melihat kata 'Allah'," ujar Madina Yakubova, ibu sang bayi ajaib itu.

Yang lebih menakjubkan, pada kaki sang bayi terdapat tulisan, ''Allah-lah pencipta seluruh alam semesta."

Ketika lahir, Ali pertama kali didiagnosis menderita penyakit jantung dan kelumpuhan serebral infantil. Namun, saat diperiksa lagi Ali dinyatakan sehat. Fenomena itu menarik perhatian Muslim Dagestan. Setiap hari rumah Ali dikunjungi ratusan orang yang penasaran dengan Keagungan dan Kuasa Sang Khalik, Allah SWT.

Ini dia videonya:





 

 

 

Sumber


Sebelum Meninggal Dia Mengatakan, "Aku Mencium Bau Surga!"



 

Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Ada tujug golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan seleain dari naunganNya... di antaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah."

Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhir ra, ketika perang Uhud ia berkata, "Wah... angin Surga, sungguh aku mencium bau Surga yang berasal dari balik gunung Uhud."

 

Seorang Dokter bercerita kepadaku, Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata seorang pemuda yang sudah meninggal -semoga Allah merahmatinya. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

 

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit atau mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah marah dan jengkel? Atau apa?

 

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka. "Jangan khawatir! Saya akan meninggal... tenanglah... sesungguhnya aku mencium bau Surga!" Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat trsebut di hadapan para dokter yang sedang merawatnya, ia berkata kepada mereka, "Wahai saudara-saudara, aku akan mati, janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium bau Surga."

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, "Asyhadu alla ilaha illAllah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Ruhnya melyang kepada Sang Pencipta.

Allohu Akbar... Apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku komentari... semua kalimat tidak mampu terucap... dan pena telah kering di tangan... aku tidak kuasa apa-apa kecuali hanya mengulang-ulang firman Allah.

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim [14] : 27)

 

Tidak ada yang perlu dikomentari lagi. Ia melanjutkan kisahnya. Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudaranya Dhiya' di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terkahir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesuah shalat Magrib pada hari yang sama.

 

1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat." Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.

 

2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga para persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Padahal tubuh rang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.

 

3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Subhanalloh...sungguh indah kematian seperti ini. Kita mohon semoga Alloh menganugerahkan kita husnul khatimah.

Saudara-saudaraku tercinta... kisah belum selesai... saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang biasa ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?

 

Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia mendapatkan husnul khatimah yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkan; meninggal dengan mencium bau Surga.

Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapar melaksakan shalat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."

 

Aku katakan, "Maha benar Alloh yang berfirman, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Rabb kami ialah Alloh" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu" Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (QS. Fushshilat [41] : 30-32)

 

Sumber:

(Serial Kisah Teladan; Muhammad bin Shalih Al-Qahthani)-eramuslim.

Selasa, 08 Mei 2012

Arti Sebuah Persaudaraan, Seberapa Berharga Bagi Kita?


Kisah kesuksesan nyata – Di suatu pagi yang cerah dengan udara yang sejuk di sebuah pedesaan, seorang ibu sedang bercengkerama dengan ketujuh anakya, kegembiraan dan kebahagiaan serta kebersamaan terbangun dalam keluarga itu, selang beberapa saat kemudian sang anak pertama melontarkan kalimat-kalimat bijak kepada ibunya,

Ibu…, aku memang tidak terlalu pintar dibanding teman-temanku disekolah, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat BODOH untukku

Ibu…, aku memang tidak terlalu cantik / tampan dibanding anak dari teman-taman ibu, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat JELEK untukku

Ibu …, aku memang tidak penurut seperti anak-anak yang lain, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat NAKAL untukku

Ibu…, aku memang sering khilaf melanggar aturan Agama karena ketidakberdayaanku, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat DURHAKA untukku

Ibu…, sampai hari aku belum mampu membalas segala jasamu dan belum mampu membahagiakan sebagaimana keinginanmu, tapi tolong jangan sampai keluarkan kalimat GAK TAHU DIRI untukku

Ibu…, kalau sampai hari ini aku masih sering lupa mendoakanmu karena kesibukanku, tolong jangan hentikan air mata do’amu untukku dan jangan pula sepatah kata laknatpun keluar dari bibirmu, Ibu itupun kemudian meneteskan air matanya, apa arti air mata ibu ini ?

Alkisah Beberapa tahun kemudian…., seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu. ”Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak dan adik-adik nya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu.
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?”

Apa jawab sang ibu..???
Apakah anda ingin tahu jawabannya..???

……Dengan tersenyum ibu itu menjawab :
”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya SANGAT SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”… Pemuda itu terbengong….

………, sejenak kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana kondisi adik-adik kita hari ini ? bagaimana pula kakak-kakak kita ? lalu bagaimana pula dengan ibu dan Ayah kita…………., apa yang telah kita berikan untuk mereka, adakah setetes air mata do’a untuk keselamatan dunia dan akhiratnya? Hari ini ? kemarin ? atau esok ?

………, Semua orang di dunia ini penting. Buka mata kita, pikiran kita, hati kita. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca semua peristiwa itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “HAL YANG PALING PENTING DI DUNIA INI BUKAN BERTANYA TERUS SIAPA KITA ? tetapi APA KARYA YANG SUDAH KITA CIPTA DAN APA YANG TELAH KITA LAKUKAN UNTUK SAUDARA-SAUDARA KITA DAN ORANG LAIN ? ”

 

 

 

 

Sumber

Antara Rp. 1.000,- dan Rp. 100.000,-


Uang Rp.1000 dan Rp 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat.

Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tdk sengaja di dalam dompet seorang pemuda. Kemudian di antara kedua uang tersebut terjadilah percakapan, yang Rp.100.000 bertanya kapada yang Rp.1000, “Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis…?

“Dijawablah oleh yang Rp. 1000, “Karena aku begitu keluar dari Bank langsung berada di tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjualikan dan di tangan pengemis.”

Lalu Rp.1000 bertanya balik kepada Rp.100.000, “Kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih? “Dijawab oleh Rp. 100.000, “Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restauran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.”

Lalu Rp.1000 bertanya lagi, “Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah? “

Dijawablah, “Belum pernah.”
Rp.1000. pun berkata lagi, “Ketahuilah bahwa walaupun keadaanku sprt ini adanya, setiap Jum’at aku selalu mampir di Mesjid2, dan di tangan anak-anak yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak dipandang manusia bukan karena sebuah nilai tapi karena manfaat…”

Akhirnya menangislah uang Rp.100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini.

Jadi bukan seberapa besar penghasilan kita, tapi seberapa bermanfaat penghasilan itu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan. Semoga kita termsuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri Anugerah dan memberimanfaat untuk semesta alam serta dijauhkan dari sifat sombong.

Sudah mengertikah Anda siapa sebenarnya manusia yang kaya di mata Tuhan?

 

 

Sumber