Kamis, 17 Mei 2012

Sebelum Meninggal Dia Mengatakan, "Aku Mencium Bau Surga!"



 

Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Ada tujug golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan seleain dari naunganNya... di antaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah."

Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhir ra, ketika perang Uhud ia berkata, "Wah... angin Surga, sungguh aku mencium bau Surga yang berasal dari balik gunung Uhud."

 

Seorang Dokter bercerita kepadaku, Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata seorang pemuda yang sudah meninggal -semoga Allah merahmatinya. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

 

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit atau mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah marah dan jengkel? Atau apa?

 

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka. "Jangan khawatir! Saya akan meninggal... tenanglah... sesungguhnya aku mencium bau Surga!" Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat trsebut di hadapan para dokter yang sedang merawatnya, ia berkata kepada mereka, "Wahai saudara-saudara, aku akan mati, janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium bau Surga."

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, "Asyhadu alla ilaha illAllah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Ruhnya melyang kepada Sang Pencipta.

Allohu Akbar... Apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku komentari... semua kalimat tidak mampu terucap... dan pena telah kering di tangan... aku tidak kuasa apa-apa kecuali hanya mengulang-ulang firman Allah.

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim [14] : 27)

 

Tidak ada yang perlu dikomentari lagi. Ia melanjutkan kisahnya. Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudaranya Dhiya' di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terkahir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesuah shalat Magrib pada hari yang sama.

 

1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat." Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.

 

2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga para persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Padahal tubuh rang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.

 

3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Subhanalloh...sungguh indah kematian seperti ini. Kita mohon semoga Alloh menganugerahkan kita husnul khatimah.

Saudara-saudaraku tercinta... kisah belum selesai... saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang biasa ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?

 

Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia mendapatkan husnul khatimah yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkan; meninggal dengan mencium bau Surga.

Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapar melaksakan shalat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."

 

Aku katakan, "Maha benar Alloh yang berfirman, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Rabb kami ialah Alloh" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu" Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (QS. Fushshilat [41] : 30-32)

 

Sumber:

(Serial Kisah Teladan; Muhammad bin Shalih Al-Qahthani)-eramuslim.

Selasa, 08 Mei 2012

Arti Sebuah Persaudaraan, Seberapa Berharga Bagi Kita?


Kisah kesuksesan nyata – Di suatu pagi yang cerah dengan udara yang sejuk di sebuah pedesaan, seorang ibu sedang bercengkerama dengan ketujuh anakya, kegembiraan dan kebahagiaan serta kebersamaan terbangun dalam keluarga itu, selang beberapa saat kemudian sang anak pertama melontarkan kalimat-kalimat bijak kepada ibunya,

Ibu…, aku memang tidak terlalu pintar dibanding teman-temanku disekolah, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat BODOH untukku

Ibu…, aku memang tidak terlalu cantik / tampan dibanding anak dari teman-taman ibu, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat JELEK untukku

Ibu …, aku memang tidak penurut seperti anak-anak yang lain, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat NAKAL untukku

Ibu…, aku memang sering khilaf melanggar aturan Agama karena ketidakberdayaanku, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat DURHAKA untukku

Ibu…, sampai hari aku belum mampu membalas segala jasamu dan belum mampu membahagiakan sebagaimana keinginanmu, tapi tolong jangan sampai keluarkan kalimat GAK TAHU DIRI untukku

Ibu…, kalau sampai hari ini aku masih sering lupa mendoakanmu karena kesibukanku, tolong jangan hentikan air mata do’amu untukku dan jangan pula sepatah kata laknatpun keluar dari bibirmu, Ibu itupun kemudian meneteskan air matanya, apa arti air mata ibu ini ?

Alkisah Beberapa tahun kemudian…., seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu. ”Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak dan adik-adik nya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu.
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?”

Apa jawab sang ibu..???
Apakah anda ingin tahu jawabannya..???

……Dengan tersenyum ibu itu menjawab :
”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya SANGAT SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”… Pemuda itu terbengong….

………, sejenak kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana kondisi adik-adik kita hari ini ? bagaimana pula kakak-kakak kita ? lalu bagaimana pula dengan ibu dan Ayah kita…………., apa yang telah kita berikan untuk mereka, adakah setetes air mata do’a untuk keselamatan dunia dan akhiratnya? Hari ini ? kemarin ? atau esok ?

………, Semua orang di dunia ini penting. Buka mata kita, pikiran kita, hati kita. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca semua peristiwa itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “HAL YANG PALING PENTING DI DUNIA INI BUKAN BERTANYA TERUS SIAPA KITA ? tetapi APA KARYA YANG SUDAH KITA CIPTA DAN APA YANG TELAH KITA LAKUKAN UNTUK SAUDARA-SAUDARA KITA DAN ORANG LAIN ? ”

 

 

 

 

Sumber

Antara Rp. 1.000,- dan Rp. 100.000,-


Uang Rp.1000 dan Rp 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat.

Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tdk sengaja di dalam dompet seorang pemuda. Kemudian di antara kedua uang tersebut terjadilah percakapan, yang Rp.100.000 bertanya kapada yang Rp.1000, “Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis…?

“Dijawablah oleh yang Rp. 1000, “Karena aku begitu keluar dari Bank langsung berada di tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjualikan dan di tangan pengemis.”

Lalu Rp.1000 bertanya balik kepada Rp.100.000, “Kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih? “Dijawab oleh Rp. 100.000, “Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restauran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.”

Lalu Rp.1000 bertanya lagi, “Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah? “

Dijawablah, “Belum pernah.”
Rp.1000. pun berkata lagi, “Ketahuilah bahwa walaupun keadaanku sprt ini adanya, setiap Jum’at aku selalu mampir di Mesjid2, dan di tangan anak-anak yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak dipandang manusia bukan karena sebuah nilai tapi karena manfaat…”

Akhirnya menangislah uang Rp.100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini.

Jadi bukan seberapa besar penghasilan kita, tapi seberapa bermanfaat penghasilan itu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan. Semoga kita termsuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri Anugerah dan memberimanfaat untuk semesta alam serta dijauhkan dari sifat sombong.

Sudah mengertikah Anda siapa sebenarnya manusia yang kaya di mata Tuhan?

 

 

Sumber

Senin, 30 April 2012

Terima Kasih Telah Menjadi Bidadari yang Cantik dan Shalihah untuk Ayah



 


 - Di pagi hari menjelang siang, terlihat Pak Agus sedang mematut-matut diri di depan cermin, setelah dirasa cukup rapi dan keren, Pak Agus yang biasa di panggil ayah oleh istrinya langsung menyemprotkan parfum ke bajunya. Setelah itu Pak Agus pamit kepada istrinya untuk pergi……

“Bu… Ayah pergi dulu ya, mau ada meeting nih.”

Bu Agus yang sedang sibuk di dapur lalu menghampiri suaminya. “Memang hari Minggu gini kantor ayah ngga libur ya? Kenapa ngga besok aja meetingnya yah, kan hari Minggu waktunya berkumpul bersama keluarga.”

Dengan wajah menahan kesal lalu Pak Agus menjawab, “Ayah ada bisnis di luar kantor Bu, jadi ngga meeting di kantor, lumayan untuk uang tambahan Bu… Udahlah ngga usah banyak tanya, nanti sore juga ayah pulang kok.”

Seraya mencium tangan si ayah, Bu Agus berkata, “Ya udah, hati-hati di jalan ya Ayah, Semoga Allah selalu melindungi Ayah.”

Setelah sampai di teras, Pak Agus melihat ban mobilnya kempes, lalu dengan wajah kesal dia berkata, “Waduuuh ada-ada aja nih, orang mau berangkat ban mobil pake acara kempes lagi… Huuuhh.”

Lalu Pak Agus kembali ke dalam untuk mengganti pakaiannya yang rapi dengan kaos. Bu Agus yang tadi berada di samping Pak Agus lalu segera mengambil kunci mobil dan membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan dongkrak, ban mobil cadangan dan peralatan lainnya. Dengan cekatan Bu Agus mendongkrak dan mengganti ban mobil yang kempes dengan ban cadangan. Sewaktu muda dulu Bu Agus adalah sosok gadis yang mandiri, pergi kuliah dan kerja Bu Agus selalu membawa mobil sendiri, dan dia juga belajar untuk mengganti ban mobil sendiri apabila sewaktu waktu ban mobilnya kempes di jalanan,

Saat Bu Agus sedang mengganti ban, Pak Agus keluar rumah bermaksud untuk mengganti ban mobilnya, tetapi ternyata dilihatnya istrinya sedang mengganti ban mobil tersebut, lalu berkata, ”Loh, kenapa Ibu yang ganti ban mobilnya? Kan tadi ayah masuk ke dalam mau ganti baju dulu lalu setelah itu mau ganti ban mobil…”

Lalu Bu Agus dengan tersenyum berkata, “Gapapa ayah, biar ibu yang ngerjain, toh Ibu udah biasa kok, udah ga asing lagi urusan pekerjaan seperti ini hehehehe, ibu takut ayah terlambat pergi ke tempat meeting…”

Tak lama kemudian ban mobil yang baru sudah terpasang, lalu Bu Agus ke dalam untuk mencuci tangan.

“Kriiingg…. kriiiiingg….” bunyi telepon rumah berdering, dengan bergegas Bu Agus mengangkat telepon rumahnya. Terdengar suara seorang wanita yang menanyakan Pak Agus…

“Hallo selamat siang, bisa bicara dengan Pak Agus?”

Dengan lembut dan sopan Bu Agus menjawab, “Assalamu’alaikum wrwb, selamat siang, maaf ini dari siapa ya?”

Wanita di seberang sana menjawab dengan nada mendesak… “Saya temennya Pak Agus, tolong cepet dong saya mau bicara sama dia.”

Lalu dengan lembut Bu Agus menjawab… “Iya…. Sebentar ya mba, Pak Agusnya saya panggilkan dulu…”

Lalu Bu Agus menghampiri suaminya di kamar yang sedang mengganti pakaian….. “Ayah, ada telepon untuk ayah…”

Lalu Pak Agus menjawab… “dari siapa Bu?”

“Katanya dari temen ayah” jawab Bu Agus.

Segera Pak Agus mengangkat telepon tersebut. Baru saja pak Agus mengucapkan salam, terdengar suara wanita di telepon marah-marah kepada Pak Agus, lalu Pak Agus menjawab…. “Iya maaf…. sabar ya, kamu tunggu aja di sana, sebab tadi aku ganti ban mobil dulu karena ban mobil ku kempes dan aku ga denger suara HP ku bunyi…”

Lalu telepon segera ditutup. Dengan terburu buru tanpa pamit lagi Pak Agus segera keluar rumah menuju mobilnya. Setelah di dalam mobil, saat menstarter mobilnya, ternyata mesin mobil tidak mau hidup, berulang kali dicoba distarter tetap mesin mobil tidak mau hidup. Lalu Pak Agus keluar untuk mengecek aki mobilnya, ternyata aki nya sudah soak. Dengan kesal Pak Agus menutup pintu mobil dengan membantingnya. Bu Agus kaget dan beristighfar mendengar suara bantingan pintu mobil tersebut, lalu bertanya pada suaminya…. “Kenapa mobilnya ayah, aki nya soak ya?”

Dengan wajah kesal Pak Agus menjawab… “Iya.”

Lalu Bu Agus berkata, “Waduuh gimana dong yah, nanti ayah terlambat meeting doong.”

Dengan wajah yang masih kesal lalu Pak Agus menjawab…. “Ya udah, hari ini ayah ga jadi meeting deh.”

Lalu Pak Agus masuk ke dalam seraya mengambil HP dan menulis sms untuk seseorang.

Terdengar suara azan Zhuhur dari masjid memanggil untuk segera melakukan shalat Zhuhur. Bu Agus mengajak suaminya untuk shalat berjamaah, tapi dengan wajah muram suaminya berkata…. “Ibu duluan aja deh shalatnya, nanti ayah nyusul sebentar lagi, mau istirahat dulu”, seraya mengambil Koran dan mencoba untuk membaca Koran di teras rumahnya.

Sebelum mengambil wudhu Bu Agus menyiapkan segelas teh manis dan sepiring pisang goreng, lalu diletakkan di meja dekat suaminya seraya berkata…. “Ini… ibu buatkan teh manis dan pisang goreng kesukaan ayah, nanti kalo udah selesai istirahatnya tolong segera shalat ya ayah…”

“Iya, terima kasih Bu…” jawab suaminya.

Setelah wudhu, Bu Agus melakukan shalat Zhuhur di dalam kamar. Di dalam shalatnya dia berdoa….

“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosa ku dan dosa-dosa suamiku, jadikanlah keluargaku menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah, limpahkanlah taufik dan hidayahMU bagi kami, lindungilah kami dari godaan syaitan dan gangguan orang-orang yang zhalim, jagalah hati dan iman kami agar selalu terpaut padaMU ya Allah. Lindungilah suamiku di manapun dia berada, dan berilah rasa cinta kasih di antara kami berdua seperti cinta kasih antara Adam dan Hawa, berikanlah keluarga kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa kubur dan siksa api neraka Ya Allah yang Maha Mengabulkan doa, terima dan kabulkanlah doa hamba, aamiin aamiin Yaa Rabbal Alamiin…”

Sabda Rasulullah SAW: “Doa itu adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala (yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: “berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”

Di teras, Pak Agus yang terlihat sedang membaca Koran, sebenarnya pikirannya tidak tertuju pada Koran yang dipegangnya. Terbayang kembali olehnya saat melihat istrinya yang sedang mengganti ban mobilnya, sikap manis serta sopan istrinya saat menerima telepon dari teman wanitanya dan rasa khawatir istrinya karena takut suaminya terlambat meeting, serta sikap manis dan hormat istrinya kepadanya selama ini. Dibandingkan dengan teman wanitanya yang marah-marah hanya karena keterlambatannya dan bahkan kegagalannya untuk datang ke tempat pertemuan mereka. Terselip rasa bersalah di hatinya karena telah membohongi dan menzhalimi istrinya. Telah sebulan ini ia telah menjalin sebuah hubungan khusus dengan seorang wanita yang dianggapnya pintar, cantik dan seksi. Sebenarnya tidak ada keluhan sama sekali atau kekurangan istrinya di matanya, namun entah kenapa dia tertarik dengan wanita teman sekantornya yang mencoba menarik perhatiannya dan menggodanya….. “Astaghfirullahaladziim….”

Mungkin memang Allah tidak mengizinkan perselingkuhan yang akan dilakukannya, terbayang kembali saat ia akan pergi, ban mobilnya kempes, lalu dengan ketulusan dan keikhlasan istrinya ban mobil tersebut diganti oleh istrinya, kemudian aki nya soak. “Hmmmm……berarti Allah benar-benar tidak meridhai dengan apa yang akan aku lakukan, benar-benar tidak meridhai kebohongan dan kezhalimanku kepada istriku….”

“Masya Allah….. Ya Allah ampuni lah dosa-dosa hambaMU ini yang telah menzhalimi istriku yang baik, cantik dan shalihah, sungguh hamba menyesal ya Allah.” Dalam hati dia berjanji untuk menghentikan perselingkuhannya saat ini juga dan akan meminta maaf pada istrinya. Lalu dengan bergegas Pak Agus ke dalam untuk mengambil wudhu dan melakukan shalat Zhuhur. Di dalam shalatnya dia berdoa … “Ya Allah ampunilah atas semua dosa-dosa dan kesalahanku, terima kasih telah Engkau kirimkan padaku seorang bidadari cantik dari surga yang telah mendampingiku selama ini, ampuni hamba yang telah menzhaliminya, kuatkan lah hati dan imanku ya Allah, agar hamba tidak tergoda oleh bujukan syaitan dan orang-orang yang zhalim dan berilah rasa cinta kasih antara aku dan istriku seperti cinta kasih antara Adam dan Hawa, berikanlah keluarga kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa kubur dan siksa api neraka, aamiin Yaa Rabbal Alamiin..”

Doa adalah sebagai pelindung dan senjata kepada setiap orang mukmin dari godaan dan hasutan syaitan serta dari kejahatan manusia. Lalu setelah shalat, dengan penuh kasih sayang Pak Agus mencium kening istrinya sambil berkata…. “Maafkan Ayah ya Bu, dan terima kasih telah menjadi bidadari yang cantik dan shalihah untuk ayah selama ini.”

Dengan penuh kebingungan Bu Agus menjawab, “Iya Ayah, terima kasih juga telah menjadi suami dan imam yang baik dan shalih selama ini.”

Pak Agus dan Bu Agus adalah type keluarga yang harmonis, beriman kepada Allah, berkecukupan akan harta dan memiliki sepasang anak yang tampan dan cantik. Namun sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Ankabuut ayat 2 berikut ini:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Dan di dalam Surat Al-Kahfi ayat 7 yang artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar kamu menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya “.

Dalam cerita ini Pak Agus mendapat ujian dari Allah atas komitmen dan kesetiaannya kepada Allah dan istrinya

Di dalam Surat Al Baqarah ayat 153 berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Bu Agus dengan kesabaran dan keimanannya kepada Allah selalu bersikap baik dan sabar kepada suaminya dan selalu berdoa kepada Allah untuk kebaikan dirinya dan keluarganya di dunia dan akhirat. Berkat doa dan kesabaran Bu Agus, akhirnya Pak Agus diberi kesadaran oleh Allah atas kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini.


 

 
Sumber: http://www.dakwatuna.com

Kamis, 26 April 2012

Binaragawan Cilik Jago Push-Up di Atas Botol


Di usianya yang masih belia, bocah asal Roma, Italia ini telah memecahkan dua rekor dunia dan diklaim sebagai binaragawan termuda dan terkuat.

GIULIANO Stroe memang masih berusia 7 tahun, tapi dia tidak sama seperti anak-anak sebayanya.

Di usianya yang masih belia, bocah asal Roma, Italia ini telah memecahkan dua rekor dunia dan diklaim sebagai binaragawan termuda dan terkuat.

Giuliano bahkan mahir melakukan gerakan push-up di atas botol!

Seperti dilansir Huffington Post, Giuliano tercatat dalam Guinness World Records dengan dua titel sekaligus. Rekor pertama yang diraihnya yaitu berjalan dengan tangan tercepat sambil mengempit bola pemberat di antara kedua kaki.

Selain itu, Giuliano juga memecahkan rekor air push-up terbanyak. Air push-up adalah melakukan gerakan seperti push up, namun dengan kaki terangkat di udara. Giuliano mampu melakukan gerakan ini lebih banyak dari saingannya yang lebih dewasa.

Giuliano telah berlatih binaraga sejak usia 2 tahun. Rekor dunia pertama kali diperolehnya setelah tampil di sebuah tayangan televisi di Italia.

Di program variety show itu, Giuliano berjalan dengan tangan sambil kakinya mengempit weight ball, bola dengan beban yang sering digunakan saat berolahraga. Giuliano melakukan gerakan ini hingga jarak 30,5 meter.

Walau disebut sebagai jagoan cilik karena fisiknya yang tangguh, keberadaan Giuliano sempat dikecam karena latihan binaraga tidak baik bagi anak-anak.

Terlebih karena tubuh Giuliano masih dalam masa pertumbuhan. Ayah Giuliano, Iulian Stroe menyebutkan, proses latihan yang dilakukan anaknya tidak akan berbahaya karena selalu berada dalam pengawasan.

“Sejak kecil, dia selalu menemani saya ke gym. Saya selalu membawa Giuliano saat saya sedang berolahraga,” tutur Iuliano kepada Weekly World News.

“Saya selalu menemani Giuliano latihan dan tidak pernah membiarkannya berlatih sendiri. Dia cuma anak-anak. Kalau dia capek, saya akan membiarkannya bermain,” tandas lelaki 33 tahun itu.

(rere/gur)

 

 

 

Sumber

Selasa, 24 April 2012

Kisah Penggembala Miskin


Selama Periode Musim Semi dan Gugur, ada seseorang penggembala bernama Song Lingzi. Dia hidup sangat miskin namun penuh arti dan bahagia. Sementara itu, ada seorang pria kaya bernama Wei Wenhou seringkali menertawakan hidup Song dan  bahkan dengan nada menghina.

Suatu hari Wei berkata pada Song, “Hidup Anda selalu miskin, apakah Anda menginginkannya seumur hidup?”

Song tidak menghiraukan sindiran Wei dan menatapnya beberapa saat. Dengan lembut Song berkata, “Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya, dan biarkan saya menjelaskannya.

Beberapa hari yang lalu, saya bermimpi seorang pria kaya yang memiliki 99 ternak domba, namun dia ingin menggenapkannya menjadi 100 ekor. Orang kaya tersebut terus saja memikirkannya, namun dia tidak dapat menemukan seekor domba pun yang dijual.

Akhirnya dia menemukan seorang tetangganya yang miskin memiliki seekor domba. Orang kaya ini pergi ke tetangganya dan memohon pada tetangga miskin itu untuk menjual padanya.”

Song melanjutkan, “Jika seseorang yang super kaya masih membutuhkan bantuan dari yang lain akan sangat sulit mengatakan siapa yang sebenarnya kaya dan siapa yang sebenarnya miskin.”

Akhirnya Song membuat kesimpulan, “Seorang yang kaya belum tentu benar-benar kaya, seorang yang miskin belum tentu benar-benar miskin.”  (Secret China/Epochtimes/noe)

 

 

 

Sumber

Kejujuran Prajurit Alexander



Pada suatu hari Alexander Agung sedang berjalan-jalan di taman, di paviliun samping sungai dia melihat seorang prajurit sedang tertidur nyenyak bersandar di pilar, di pipinya terlihat bekas airmata.

Alexander Agung merasa agak aneh, ketika dia ingin berteriak membangunkan prajurit malas tersebut, tetapi setelah berpikir sebentar dia membatalkan niatnya, karena dia melihat sepucuk surat yang terjatuh dari saku prajurit ini.

Didorong oleh rasa ingin tahu, Alexander Agung memungut surat tersebut.

Surat ini berasal dari ibu prajurit tersebut, didalam surat ditulis uang yang dititipkan beberapa waktu yang lalu sudah diterima, cukup membeli obat untuk dimakan beberapa waktu, berpesan kepada anaknya jangan mengkhawatirkan penyakit ibunya…..

Setelah membaca surat tersebut Alexander Agung dapat merasakan keagungan ibu tersebut, hatinya bagaikan dialiri oleh perasaan hangat.

Lalu dia mengeluarkan sekantong koin emas, beserta dengan surat tersebut dimasukkan kembali ke saku baju prajurit tersebut, berbalik dan kembali ke istana.

Segera setelah prajurit ini terbangun, tergesa-gesa dia meraba ke kantong sakunya mencari surat dari ibunya, secara tak terduga dia menemukan di kantong sakunya ada sekantong koin emas, kantong yang berisi emas ini ada sulaman emas tertulis nama Alexander Agung, prajurit ini tiba-tiba sekujur badannya mengeluarkan keringat dingin, hatinya merasa sangat ketakutan, dia berpikir pasti ada orang yang ingin mencelakakannya, dalam rangka mengklarifikasi diri sendiri, dia tergesa-gesa pergi ke istana menghadap  raja Alexander Agung.

Alexander Agung setelah mendengar prajurit ini ingin bertemu dengannya, segera keluar dan berkata, “Prajurit, engkau ada masalah apa ingin bertemu dengan diriku?”

“Paduka terhormat, hamba tadi tidak mematuhi peraturan sewaktu bertugas tertidur sebentar, setelah bangun menemukan di kantong saku hamba ada sekantong koin emas, pasti ada orang yang ingin memfitnah saya mencuri emas paduka, paduka tolong selidiki hal yang sebenarnya terjadi, hamba tidak mencuri.” Setelah selesai berbicara prajurit ini membawa kantong koin emasnya diserahkan kepada Alexander Agung.

Setelah mendengar perkataan prajurit ini, Alexander Agung tersenyum ramah sambil berkata, “Kelihatannya engkau orang yang jujur, sekantong koin emas ini adalah hasil dari kejujuran anda, sekarang engkau dapat membawanya pulang ke rumah, untuk biaya perawatan dan pengobatan ibumu, sampaikan salam saya untuk ibumu.”

Kejujuran adalah bias dari pikiran yang murni, tidak hanya dapat menerangi diri sendiri, juga dapat menghangatkan orang lain. Seseorang yang memiliki kejujuran, juga memiliki seluruh emas dalam kehidupannya. (hui)

 

 

 

 

Sumber